Sinematografi & Perfilman Indonesia

Sinematografi Korea mungkin masih dianggap terlalu muda jika dibandingkan dengan Hollywood yang menjadi pionir dalam industri film. Tetapi keunggulan industri film tidak hanya ditentukan oleh lamanya pengalaman namun juga kreatifitas para sinematograf. Sebagai negara yang telah maju di bidang perekonomian, apresiasi terhadap seni film yang dilakukan para aktor di depan maupun di belakang layar lebar tentulah berpengaruh positif terhadap kesuksesan dunia perfilman Korea. Apresiasi terhadap profesionalitas kerja yang dilakukan para tokoh seni tersebut tentulah dengan memproduksi sinema-sinema berkualitas dan berkelas dunia. Jika dicermati, para kreator dapat maksimal berkreatifitas jika didukung oleh suasana politik dan ekonomi yang stabil. Dengan melihat perkembangan sinematografi, kita dapat melihat bahwa perfilman Korea secara bertahap mengejar kesuksesan dunia perfilman Hollywood.

Membicarakan perkembangan film, tentunya terelasi dengan sejarah lahirnya film di Korea hingga kesuksesannya sejauh ini. Munculnya film pertama kali di Korean sekitar tahun 1923, saat Korea berada dalam kungkungan pemerintah Jepang. Karena isinya mengkritik kekejaman polisi Jepang, pemerintah segera memberlakukan sensor ketat demi kepentingan politiknya. Setelah berakhirnya pemerintahan Jepang pada 1945, industri perfilman kolaps karena adanya perang saudara yang akhirnya memisahkan Korea menjadi dua bagian; utara dan selatan. Baru tahun 1955 dunia layar lebar mulai bangkit dan berjaya selama 15 tahun.
Ketatnya sensor yang diberlakukan, kembali membunuh insan perfilman. Di era 1980an, konstitusi baru yang memberikan angin segar terhadap dunia film. Sedikit demi sedikit pemberlakuan sensor dihapus. Pelarangan impor film-film barat juga dicabut, tapi hal tersebut menyebabkan film-film domestik kehilangan pasar. Selanjutnya beberapa perusahaan raksasa atau istilah Koreanya, chaebol, turut terjun dalam bisnis perfilman sebagai penyandang dana sekaligus rumah produksi. Tahun 1996 ditandai dengan lahirnya sutradara-sutradara inovatif yang menyuguhkan sinema-sinema ber-genre baru. Hal tersebut mampu menarik kembali minat penonton menyerbu film-film dalam negeri.
Melihat perkembangan blantika perfilman Korea diatas, kejayaan film tidak lepas dari kebijakan positif pemerintah dibidang sensor. Tak dapat dipungkiri, ketatnya kontrol pemerintah terhadap film dapat membunuh kreatifitas para pembuat film. Beberapa dasawarsa yang lalu, Korea terkenal sebagai negara yang paling ketat dalam memberlakukan sensor. Pada tahun 1973, pemerintah mengesahkan Undang-Undang Perfilman tentang double censor, yang berarti semua film harus melewati dua kali penyuntingan; pra-produksi dan pasca-produksi. Jika diketahui isi film berbeda dengan proposal yang diajukan kepada pemerintah, maka film tersebut mendapat label cekal. Sehingga ketika Undang-Undang Perfilman segera direvisi pada tahun 1985, semangat pencipta-pencipta seni dalam berkreasi kembali bangkit.
Dibukanya kebebasan berkreatifitas mengundang para pembuat film untuk tidak ragu mengangkat polemik politik sebagai tema film mereka. Salah satunya adalah Simildo (2003), film unggulan karya sutradara berpengalaman, Kang Woo-seok. Kang pernah menyatakan bahwa film hasil garapannya hanyalah film berbasis entartainment biasa, dia tak pernah bermaksud menyinggung masalah-masalah sosial. Kenyataannya, Simildo merupakan film yang tidak secara sengaja mengambil latar belakang politik dan berhasil memuaskan animo penonton terhadap sinema lokal. Film ini diangkat berdasarkan peristiwa nyata di Semenanjung Korea tahun 1971 pada masa perang dingin antara dua Korea yang bertikai. Film yang terang-terangan mengungkap sejarah yang terkebiri ini merupakan sebuah refleksi nyata kemajuan demokrasi di Korea Utara. Jika Kang merilis film sejenis pada 30 dasawarsa yang lalu, pasti film tersebut dan dicekal dan dia ditahan. Keberanian Kang mempublikasikan polemik yang terjadi diantara Korea Selatan dan Korea Utara berhasil memenangkan penghargaan Nobel Perdamaian dari Presiden Kin Dae Jung pada tahun 2000.
Selain dukungan pemerintah, menguatnya bisnis perfilman Korea juga dipengaruhi kesuksesan dibidang bisnis dan stabilitas perekonomian. Di penghujung 1980an, perindustrian film terpuruk akibat kalah bersaing dengan produksi-produksi Hollywood. Salah satu anggota chaebol ikut bergabung mengelola industri film dan memberi dukungan finansial serta mengatur tentang produksi, ekshibisi, distribusi sebuah film. Marriage Story (1992) yang disutradai oleh Kim Ui-seok merupakan film pertama yang pengerjaannya di bawah Samsung.
Kebesaran industri film sangat tergantung pada kreatifitas dan kontinuitas para pencipta film dalam berkarya. Dalam hal ini Korea memiliki banyak sutradara berbakat yang terus menerus memperkokoh panggung layar lebar. Adalah Im Kwong Taek sebagai salah satu sutradara yang antusias memajukan sinematografi Korea. Segera setelah menyadari mutu film-film produksinya hanya berorientasi pada komersialisme dengan mutu jauh dibawah sinema-sinema barat, Im mulai memproduksi film yang lebih berorientasi pada seni. Dia mencoba berkreasi dan menggali kembali elemen tradisional dan budaya Korea yang terlupakan, sehingga terciptalah film Mandala (1981). Karya spektakulernya Sopyonje (1993) mampu membangunkan kembali nilai seni sinematografi Korea. Sebuah film ber-genre popular baru Marriage Story (1992) karya Kim Ui-seok mendapat sambutan meriah dengan menyajikan film komedi perang dan romanisme. Film yang mulai berani menyentuh dunia politik sebagai bentuk kebebasan berekspresi disuguhkan Park Kwang-soo dalam Chilsu and Mansu (1988) dan Kang Woo-seok dengan Simildo (2003). Dari tangan-tangan dingin merekalah lahir film-film yang mampu menggerakkan mata dunia menyaksikan film-film Asia yang berstandar internasional.
Usaha para pendahulu menekuni profesionalitas seorang sineas, telah mendorong lahirnya sineas-sineas muda yang lebih kreatif dalam berkarya. Diakhir millenium kedua, ada banyak sutradara baru yang tertarik memulai debutnya dengan memproduksi film-film komersial. The Contact (1997) hasil karya Chang Yoon-hyun berhasil menembus box-office Korea. Disusul kemudian keberhasilan Kang Je-gyu dalam Shiri (1999) dan Park Chan-wook dalam Joint Security Area (2000). Salah seorang sutradara yang lebih kontroversial, Kim Ki-duk, berani melakukan membuat film dengan metode penggarapan baru, kasar tetapi secara visual menarik ditonton. Filmnya, The Isle (2000) mampu memenangkan penghargaan internasional meskipun kemudian menuai protes kritikus dalam negeri.
Berkat kontinuitas para kreator seni film serta dukungan pemerintah dan dunia ekonomi, sejak 1999 dunia perfilman Korea berhasil mengalahkan pangsa pasar film-film Hollywood yang mendominasi bioskop Korea. Geliat perfilman Korea yang telah mampu menundukkan pasar domestik juga telah melebarkan sayap ke wilayah regional dan juga internasional. Dengan menyublimasi kendala bahasa, bukan tidak mungkin jika perfilman Korea akan mampu bersaing dengan Hollywood dalam menginvasi bioskop-bioskop dunia. (*)


PERFILMAN INDONESIA ..
Dari Wikipedia bahasa Indonesia.
Perfilman Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan sempat menjadi raja di negara sendiri pada tahun 1980-an, ketika film Indonesia merajai bioskop-bioskop lokal. Film-film yang terkenal pada saat itu antara lain, Catatan si Boy, Blok M dan masih banyak film lain. Bintang-bintang muda yang terkenal pada saat itu antara lain Onky Alexander, Meriam Bellina, Nike Ardilla, Paramitha Rusady.
Pada tahun-tahun itu acara Festival Film Indonesia masih diadakan tiap tahun untuk memberikan penghargaan kepada insan film Indonesia pada saat itu. Tetapi karena satu dan lain hal perfilman Indonesia semakin jeblok pada tahun 90-an yang membuat hampir semua film Indonesia berkutat dalam tema-tema yang khusus orang dewasa. Pada saat itu film Indonesia sudah tidak menjadi tuan rumah lagi di negara sendiri. Film-film dari Hollywood dan Hong Kong telah merebut posisi tersebut.
Hal tersebut berlangsung sampai pada awal abad baru, muncul film Petualangan Sherina yang diperankan oleh Sherina Munaf, penyanyi cilik penuh bakat Indonesia. Film ini sebenarnya adalah film musikal yang diperuntukkan kepada anak-anak. Riri Riza dan Mira Lesmana yang berada di belakang layar berhasil membuat film ini menjadi tonggak kebangkitan kembali perfilman Indonesia. Antrian panjang di bioskop selama sebulan lebih menandakan kesuksesan film secara komersil.
Setelah itu muncul film film lain yang lain dengan segmen yang berbeda-beda yang juga sukses secara komersil, misalnya film Jelangkung yang merupakan tonggak tren film horor remaja yang juga bertengger di bioskop di Indonesia untuk waktu yang cukup lama. Selain itu masih ada film Ada Apa dengan Cinta? yang mengorbitkan sosok Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra ke kancah perfilman yang merupakan film romance remaja. Sejak saat itu berbagai film dengan tema serupa yang dengan film Sherina (film oleh Joshua, Tina Toon), yang mirip dengan Jelangkung (Di Sini Ada Setan, Tusuk Jelangkung), dan juga romance remaja seperti Biarkan Bintang Menari, Eiffel I'm in Love. Ada juga beberapa film dengan tema yang agak berbeda seperti Arisan! oleh Nia Dinata.
Selain film-film komersil itu juga ada banyak film film nonkomersil yang berhasil memenangkan penghargaan di mana-mana yang berjudul Pasir Berbisik yang menampilkan Dian Sastrowardoyo dengan Christine Hakim dan Didi Petet. Selain dari itu ada juga film yang dimainkan oleh Christine Hakim seperti Daun di Atas Bantal yang menceritakan tentang kehidupan anak jalanan. Tersebut juga film-film Garin Nugroho yang lainnya, seperti Aku Ingin Menciummu Sekali Saja, juga ada film Marsinah yang penuh kontroversi karena diangkat dari kisah nyata. Selain itu juga ada film film seperti Beth, Novel tanpa huruf R, Kwaliteit 2 yang turut serta meramaikan kembali kebangkitan film Indonesia. Festival Film Indonesia juga kembali diadakan pada tahun 2004 setelah vakum selama 12 tahun.
Saat ini dapat dikatakan dunia perfilman Indonesia tengah menggeliat bangun. Masyarakat Indonesia mulai mengganggap film Indonesia sebagai sebuah pilihan di samping film-film Hollywood. Walaupun variasi genre filmnya masih sangat terbatas, tetapi arah menuju ke sana telah terlihat.

Film pertama yang dibuat pertama kalinya di Indonesia adalah film bisu tahun 1926 yang berjudul Loetoeng Kasaroeng dan dibuat oleh sutradara Belanda G. Kruger dan L. Heuveldorp. Film ini dibuat dengan aktor lokal oleh Perusahaan Film Jawa NV di Bandung dan muncul pertama kalinya pada tanggal 31 Desember, 1926 di teater Elite and Majestic, Bandung.[1] Setelah itu, lebih dari 2.200 film diproduksi.
[sunting] Film Indonesia Terbaik

Sudah sejak lama ada beberapa pihak baik itu institusi, media ataupun perorangan yang berusaha menggolongkan film-film Indonesia sepanjang masa yang layak menjadi film yang terbaik berdasarkan kategori-kategori tertentu. Salah satunya adalah tabloid Bintang Indonesia yang pada akhir tahun 2007 berusaha memilah film-film apa saja yang dapat dikategorikan sebagai film Indonesia terbaik. Dari 160 film yang masuk dipilihlah 25 film yang dapat dikategorikan sebagai film-film Indonesia terbaik sepanjang masa. Film-film tersebut dipilih oleh 20 pengamat dan wartawan film yakni: Yan Widjaya (wartawan film senior), Ilham Bintang (wartawan film senior), Ipik Tanojo (Bali Post), Eric Sasono (pengamat film), Arya Gunawan (pengamat film), Noorca M. Massardi (wartawan film senior), Yudhistira Massardi (Gatra), Leila S. Chudori (Tempo), Frans Sartono (Kompas), Yusuf Assidiq (Republika), Aa Sudirman (Suara Pembaruan), Taufiqurrahman (The Jakarta Post), Eri Anugerah (Media Indonesia), Sandra Kartika (Wakil Pemimpin Redaksi Tabloid Teen), Telni Rusmitantri (Cek n Ricek), Ekky Imanjaya (situs Layarperak.com), Wenang Prakasa (Movie Monthly), Orlando Jafet (Cinemags), Poernomo Gontha Ridho (Koran Tempo), dan Ekal Prasetya (Seputar Indonesia)[2]. Ke-25 Film tersebut adalah:
1. Tjoet Nja’ Dhien (1986)
2. Naga Bonar (1986)
3. Ada Apa dengan Cinta? (2001)
4. Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985)
5. Badai Pasti Berlalu (1977)
6. Arisan! (2003)
7. November 1828 (1978)
8. Gie (2005)
9. Taksi (1990)
10. Ibunda (1986)
11. Tiga Dara (1956)
12. Si Doel Anak Betawi (1973)
13. (Cintaku di) Kampus Biru (1976)
14. Doea Tanda Mata (1984)
15. Si Doel Anak Modern (1976)
16. Petualangan Sherina (1999)
17. Daun di Atas Bantal (1997)
18. Pacar Ketinggalan Kereta (1988)
19. Cinta Pertama (1973)
20. Si Mamad (1973)
21. Pengantin Remaja (1971)
22. Cintaku di Rumah Susun (1987)
23. Gita Cinta dari SMA (1979)
24. Eliana, Eliana (2002)
25. Inem Pelayan Sexy (1977)
- Jurusan Filmatologi Program Studi Teori dan Estetika (S1-Terdaftar-1985)

Fakultas Film dan Televisi
- Jurusan Sinematografi: Program Studi Penyutradaraan (D3-Terdaftar-1985); Program Studi Editing (D3-Terdaftar-1985); Program Studi Tata Visual (D3-Terdaftar-1985); Program Studi Sinematografi (D3-Terdafatr-1985); Program Studi Suara (D3-Terdaftar-1985); Program Studi Animasi (D3-Terdaftar-1985); Program Studi Skenario (D3-Terdaftar-1985); Program Studi Manajemen Produksi (D3-Terdaftar-1985)

- Jurusan Filmatologi Program Studi Teori dan Estetika Film (S1-Terdaftar-1999); Program Studi Kritik dan Analisa Film (S1-Terdaftar-1999); Program Studi Semiologi (S1-Terdaftar-1999)

Harta Karun Soekarno

Bukan sekali dua kali banyak orang yang mengklaim dirinya punya akses untuk mencairkan harta peninggalan Bung Karno dan lain-lain. Katanya jumlahnya berlipat-lipat dari APBN Indonesia, bahkan katanya kalau dicairkan, hutang-hutang Indonesia yang baru akan lunas 10 turunan itu bakalan lunas nas naaas..
Saya tidak mengerti tentang kebenaran klaim-klaim tersebut. Tetapi menarik juga membaca berita hari ini di Pikiran Rakyat: Duki Temukan Emas Bergambar Bung Karno.

NURIYAN sudah melihat sendiri emas berukir foto dan nama Bung Karno yang ditemukan Duki saat meratakan lahan di Desa Kalihurip, Kec. Cikampek, Kab. Karawang, Jumat (1/8).* DEWIYATINI/"PR"
UKURANNYA memang tidak lebih dari ukuran bungkus rokok. Beratnya juga hanya sekitar 0,5 kilogram. Namun, penampilannya dan nilai yang terkandung dari benda ini, bisa membuat banyak orang tergiur untuk mendapatkannya.
Apalagi, nilai sejarahnya pun diduga akan ikut menaikkan harga benda tersebut. Di bagian penampangnya, terukir gambar lelaki dengan kopiah dan nama yang tertulis di bawahnya tidak asing lagi, “Ir. Soekarno”. Presiden RI pertama. Bahkan, di sisi kanan dan kirinya menempel tulisan “GOLD” dan “24 KARAT”.
Ya, itulah benda yang ditemukan Duki (40). Warga Desa Kalihurip Kec. Cikampek Kab. Karawang tersebut yang menemukan emas batangan itu. Tepatnya, Kamis (24/7) lalu, ia menemukannya ketika meratakan tanah yang letaknya bersebelahan dengan gerbang tol Kalihurip 2. Di lahan tersebut akan dibangun musala.
“Saya menemukannya waktu mencangkul. Dalam galiannya sekitar 75 sentimeter,” kata Duki yang ditemui di rumahnya, Jumat (1/8).
Ia meratakan lahan itu karena disuruh oleh Nuriyan, seorang pengurus pusaka dari Cirebon. Bersama Amil Kasim dan Salim, Duki menyelesaikan perataan lahan, yang semula kawasan itu disebut Sumur Dua karena ada dua sumur yang menjadi sumber mata air dan tidak terurus.
“Sebenarnya, saya tidak ingin menginformasikan penemuan ini. Saya khawatir, nantinya lahan yang semula akan dijadikan tempat ibadah, malah digali mencari emas,” ujar Nuriyan, yang mengaku belum memeriksa keaslian emas batangan tersebut.
Kades Kalihurip Eman Sulaeman membenarkan adanya penemuan itu. Akan tetapi, ia belum melihat langsung benda tersebut. Ia mengatakan bahwa lahan itu milik warganya dan telah dimintakan izin.
Lahan itu merupakan milik Budi yang luasnya 4 hektare. Saat Nuriyan meminta izin untuk membangun musala, Budi mengizinkannya. Menurut Nuriyan, penentuan lokasi pembangunan musala itu didapatkan dari petunjuk leluhurnya. Ia menyebut, tujuannya hanya untuk melestarikan peninggalan leluhur yang dinamai “Sumur Pusaka Cikahuripan”.
Kini, emas batangan itu berada di tangan Kasim. Ia tidak bermaksud untuk menjualnya atau menyerahkannya kepada pemerintah. Malahan, Nuriyan bermaksud menjaganya sebagai bagian dari pusaka peninggalan leluhur. Ia juga berharap lokasi itu tidak didatangi banyak orang untuk mencari emas-emas lainnya yang diduga peninggalan Bung Karno ketika singgah di Karawang.
Misteri Harta Karun Soekarno
HARTA karun peninggalan mantan presiden Soekarno selama ini masih misteri, bahkan tak sedikit yang meragukannya. Kasus kegagalan pencarian harta peniggalan Prabu Siliwangi di Istana Batutulis beberapa waktu lalu, sepertinya memupus harapan orang untuk memercayai hal-hal yang sulit dibuktikan kebenarannya.

Harta Karun Soekarno !
HARTA karun peninggalan mantan presiden Soekarno selama ini masih misteri, bahkan tak sedikit yang meragukannya. Kasus kegagalan pencarian harta peniggalan Prabu Siliwangi di Istana Batutulis beberapa waktu lalu, sepertinya memupus harapan orang untuk memercayai hal-hal yang sulit dibuktikan kebenarannya.



Namun lelaki yang menyebut diri satria piningit bernama Soenuso Goroyo Soekarno mengaku dapat mengangkat peninggalan Presiden Pertama RI itu. Bentuknya berupa ratusan keping emas lantakan, platinum, sertifikat deposito obligasi garansi, dan lain-lain. ”Ini baru sampel dan silakan mengecek kebenarannya. Jika bohong, saya siap digantung,” katanya, Jumat kemarin, kepada pers.

Mantan anggota TNI yang dahulu bernama Suwito itu sengaja mengundang wartawan di rumahnya, Perumahan Cileungsi Hijau, daerah perbatasan Bogor-Bekasi, untuk menyaksikan temuannya. Di rumahnya yang cukup megah disiapkan hidangan layaknya orang hajatan. Maklum, Goroyo, begitu dia biasa disapa, juga mengundang Pangdam Jaya, Kapolda, dan anggota Muspida. Tetapi dari mereka, tak ada pejabat datang.

Kepada tamunya, suami RA Lastika ini memperlihatkan peti besar berisi ratusan keping emas lantakan, masing-masing beratnya 8 ons bergambar Soekarno dan di baliknya ada gambar padi dan kapas. Pada satu sisinya ada tulisan 80 24K 9999. Sementara itu emas putih (platinum) juga berbentuk lantakan berlogo tapal kuda putih bertulisan JM Mathey London. Logam itu dibungkus emas dan bersertifikat emas pula.
Meskipun bersertifikat dan diyakini keasliannya, pada kesempatan itu tidak dihadirkan orang yang mengetahui emas atau pakar yang bisa memastikan asli atau tidak harta benda tersebut.

Memberi Kuasa
Peninggalan lain berupa sertifikat deposito bertanggal 16 Agustus 1945 yang dikeluarkan oleh BPUPKI yang menyebut sejumlah harta yang disimpan di suatu tempat. Ada pula sertifikat berbahasa Inggris yang juga disegel dan ditulis di atas lembar kuningan. Sertifikat itu ada yang bertuliskan ”Hibah Substitusi” yang dipercayakan kepada R Edi Tirwata Dinata (108).Yang terakhir ini, konon karena sudah tua, lantas memberikan kuasa kepada R Anton Hartono untuk mengurus harta benda yang disimpan di Swiss. Bentuknya mikrofilm, dua lembar dokumen, anak kunci boks deposit di JBS, Jenewa, dan dua buah koin.

Di dalam sertifikat itu disebutkan, ada dana berjumlah 126,2 miliar dolar AS dan 63,10 miliar dolar AS.”Insya Allah, jika saya diberi izin, semua harta peninggalan Bung Karno ini bisa membayar utang kita. Saya yakin bisa melaksanakannya,” ungkap Goroyo sembari membantah dirinya paranormal. Dia juga membantah berambisi menjadi presiden atau jabatan politis lain. ”Semua saya lakukan dan beberkan untuk membangun negara kita,” tegasnya.Saat mendekati rumahnya, di pintu gerbang perumahan dan di depan rumahnya terpampang spanduk putih bertulisan merah,

”Satrio Piningit Soenuso Goroyo Soekarno sang Juru Selamat Telah Hadir di Bumi Indonesia.”Namun wartawan yang datang sejak pukul 11.00, baru diterima seusai shalat jumat. Goroyo mengenakan stelan jas putih, sepatu putih, mirip yang dikenakan Presiden Soekarno.Di ruang tamunya juga dipajang foto dirinya bersama seorang jenderal. Ada pula yang memperlihatkan saat dirinya menjadi anggota Batalyon Arhanud SE 10/Kodam Jaya. Namun, dia enggan membeberkan latar belakang jati dirinya. ”Saya ini orang susah. Jadi tentara pangkatnya juga di sini (memegang lengannya). Jika saya pakai pakaian seperti ini, hanya model. Kebetulan saya suka,” tuturnya.

Proses Pencarian

Goroyo mengemukakan, dia hanya ingin ada saksi dari aparat soal harta temuannya itu. Selanjutnya akan diserahkan kepada Presiden Megawati dan diharapkan bisa melunasi utang luar negeri pemerintah. ”Saya tidak ingin imbalan apa pun termasuk jabatan. Saya hanya butuh pengakuan dan surat kuasa untuk meneruskan pencarian harta ini. Namun tampaknya Kapolda dan Kapolri berhalangan.”


Dia menceritakan proses pencarian harta tersebut. Diawali dari kebiasaannya bertirakat di berbagai tempat, lantas mendapatkan petunjuk. Petunjuk awal adalah sebuah tongkat wasiat yang diyakini tongkat komando milik Presiden Soekarno yang kemudian disimpannya hingga kini.Selanjutnya, dengan tirakat pula, secara gaib harta benda itu bisa diangkat dari beberapa daerah di Bali, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan. ”Meskipun benda ini kini nyata, tapi awalnya adalah harta gaib. Jadi, mengambilnya juga dengan cara gaib. Saya tidak boleh memilikinya. Saya diperintahkan menyerahkan kepada negara untuk menyelamatkan bangsa,” paparnya.Ketika disinggung, kenapa justru membeberkan kepada wartawan, bukan langsung menyerahkan kepada pemerintah, Goroyo menyatakan dirinya sudah capai berhubungan dengan pejabat. Awalnya dia melapor kepada Presiden Megawati, tapi tidak digubris. Kemudian kepada mantan atasannya, Kol Art Harus Putri Osa, Dan Men Arhanud I Kodam Jaya, ke Mabes TNI, bahkan juga dilaporkan kepada anggota DPR Permadi SH.

Namun semua seperti tidak menghiraukannya. ”Karena itu, saya mengundang rekan-rekan wartawan untuk menyaksikan langsung,” ujar Goroyo sembari menegaskan, sebagai satria piningit dirinya mengemban tugas menyelamatkan bangsa. Sebutan satria itu dia jelaskan, tidak ada kaitannya dengan ramalan yang pernah diucapkan Permadi bahwa negeri ini akan dipimpin satria piningit.
Katanya pada tahun sebelum 1945 tp dalam penjajahan jepang soekarno tuh naru duid di bawah tanah yang Jumlahnya treliunan.. Dan sekarang yang g tau anak pertama dari istri keduanya udah Nemui 1miliar dengan bantuan para normal(tentunya saja uang zaman dulu).. Nah lo tw gak sehh !! dulu soekarno naruh uangnya dengan 15 lebih truk di masukan ke dalam lobang tanah yang dalam bersama truk truk nya .. lalu soekarno meMbunuh semua orang yang Telah Ikut membantu memasukann truknya.. sampai ada 1 orang tentara yang lolos.. nah tentara itu berhasil menyelamatkan diri dan bertemu istri keduanya soekarno.. dan akhirnya pun anaknya tau dan sekarang masih mencari harta yang di tinggalkan soekarno..
N satu lagi,, waktu paranormalnya nyari uang yg di dalem tanah itu gk pake pengeboran ato alat pembantulainnya ,, itu pake jin dan jenglot.. Anak keduanya mencari uangnya dengan para normal karena sebelumnya ia sudah pernah mencari dengan mesin pembantu untuk menggali tanah . Lalu hasilna ENOL lalu ia mencoba untuk memakai paranormal dalam pencariannya,, kata si paraNormal harta itu di jaga jin peliharaannya soekarno ,, sampai sampai paranormalnya untuk mengambil hartanya pun tidak 1 orang ,, bahkan sampai 5 orang..