ANTARA-Indonesian News

Isi hatiku


Hatiku....

Wahai hatiku !...

Melihat dikedalaman hati tak jua aku mengerti gelisah diri ini
dalam hati kusebut-sebut nama-Mu, berharap Engkau sudi menatapku
hamba terhempas di kesunyian diri mencari mata air kesejukan
tuk mengusir dahaga jiwa merindu kekasihnya...

kosong apa yang kutatap ...
sunyi apa yang kudengar ...
lepas apa yang kujalani ....
biarlah rasa ...
tiada rasa ...
hilang rasa ...hanya-Mu
tiada yang lain
tak peduli yang lain…hanya-Mu
hilang diri…hanya-Mu
hati…hatiku
biarlah pecah asal-Mu mengisiku
pecahkan hatiku dengan keagungan-Mu

tak apa kata mereka ...apapun semuanya karena-Mu


Dia Bukan Manusia

Manusia bodoh....manusia dungu
berkata tanpa ilmu
berilmu tanpa hikmah
tanpa isi
ia senang mencemooh orang lain
sementara tak sadar kedunguan dirinya...hina dirinya
tak ada kemuliaan baginya
berbicara Tuhan hanya di lisan
berbicara Islam hanya tipuan
bukan buat dirinya tapi orang lain
berbuat baik hanya topeng
sombong aslinya
dungu sebenarnya
dia bukan manusia

Menulis Hujan
Selalu kulihat langit mencurahkan hujan
meski kutulis kalimat-Nya dengan tinta air hujan
tak kan habis...tak kan cukup
atau kutulis kekagumanku pada hujan
tak kan habis...tak kan cukup

Pada setiap tetesan ada kalimat-Nya
pada setiap gemuruh ada seruan perintah-Nya
pada setiap cetusan kilat ada kekuasaan dan keagungan-Nya
pada bumi yang basah ada rahmat-Nya

Bahkan bumi pun butuh minum
hanya Dia yang mampu memberi minum
Demi langit dan bumi serta segala isi keduanya
Kaulah Sang Maha Agung segalanya bagiku
Puji bagi-Mu atas energi hidup yang selalu Kau turunkan
Hujan kasih sayang-Mu


Muhammadku

Dari-Nya satu titik cahaya terpancar
menjadi matahari menjadi gemintang menjadi alam
bersemayam dalam nur muhammad
butiran kemilau mutiara asma-Nya

Mata tak kan sanggup memandang keindahan wajahnya
Telinga tak kan cukup mendengar keindahan sosoknya
Pikiran kan takjub pada kemuliannya
Hati pasti kan melebur dalam kerinduan padanya

Muhammadku dalam jiwa
Muhammadku dalam hati
Muhammadku di sekujur tubuhku

Memanggil-Mu dengan denyut nadiku
Muhammadkan aku duhai Cahayaku
Sirami aku dengan Cahaya-Mu
agar berjumpa muhammadku



Penuh Dosa

Oh Tuhanku dosaku melekat pada kulitku
bagaimanakah jika ia bicara tentang aku
Tak kan cukup air mata menghapus bayangan dosaku
Tak kan cukup sejuta istighfar menghilangkan salahku
Tak kan cukup sejuta amal menebus dosaku
Kecuali rahmat-Mu oh Rabbku

Mulia bukan untuk diriku
Pujian tak pantas bagiku
Tak kan mampu ku menutupi aibku
Kecuali rahmat-Mu oh Rabbku

Semua yang buruk ada padaku
Kotorlah aku
Kehinaan diriku di hadapan-Mu
Kecuali rahmat-Mu oh Rabbku

Demi langit dan bumi-Mu
Hanya kuburlah tempat yang layak bagiku
Rabb...Kusedih bila melihat Kau
Sedang memuliakan orang-orang yang Kau sayangi
Bagaimana denganku ?...



TERHEMPAS LAGI.....

untukmu yang selalu tertawa tiap hari
lihatlah dikedalaman hati dan jiwamu
pernahkah kau lihat sosok sejati dirimu ?....
sebab yang kau lihat pada cermin itu hanyalah
sebuah jasad yang kan mati menjadi bangkai

berbuatlah sesukamu...
berucaplah sepuasmu....
tertawalah....
menangislah...
tak kan ada arti bagimu...
jika kasih sayang-Nya tak menghampirimu
kau hanyalah jiwa yang terhempas
tertiup angin bersama debu duniawi

kemanakah tempat kembalimu ?....
atau kau memang rela jiwamu terhempas lagi ?...


BERSAMA AWAN......

Menembus relung-relung bayang-bayang waktu
semua yang ada berpencar berpadu pada yang Satu
nuansa warna indah terbias nampak di awan
kusematkan senandung pujianku
sembari pandanganku melukis diawan

Bersama awan yang bergerak perlahan
berzikir pula denyut jantungku
meski lisanku tak kuat menyebut keagungan-Nya

Bersama awan yang berarak
mengiringi segala gerak
air kehidupan yang tercurah
membuat segalanya menjadi anugerah
bersama awan....

Sumber Kekuatan dan Ketentraman Bathin




MA`RIFATULLAH

Ma`rifatullah ialah melihat dan mengenal Allah dengan mata hati bukan dengan mata kepala.
Sebenarnya ruh-ruh kita dahulu sebelum menyatu dengan jasad telah menghadap Allah untuk syuhud (menyaksikan keesaan Allah SWT), bukti bekas syuhud inilah yang kemudian menjadi fitrah atau yang sekarang dikenal dengan istilah God Spot , sehingga setiap manusia didalam jiwanya terdapat kecenderungan mencari Tuhannya. Jadi sesungguhnya bukanlah hal yang sulit untuk mengenal Allah SWT jika ternyata ruh-ruh kita sudah pernah syuhud lebih dulu kepada-Nya, apalagi bila kita bisa menghayati bahwa diri kita ini merupakan tajalli sifat-sifat Allah SWT, ditambah lagi semua keberadaan ciptaan Allah SWT yang tak terhitung disekeliling kita, tentu kita akan mudah mengenal siapa yang menciptakan ini semua. Hanya saja dibutuhkan hati yang bersih dan tunduk untuk dapat mengenal-Nya. Justru yang lebih sulit ialah mengetahui seseorang yang dikaruniai rahasia ma`rifatullah, sebab wujudnya sama seperti kita yakni manusia dengan segala aktivitas hariannya; makan, minum, tidur, bekerja, belajar, istirahat, dll. Ditambah lagi orang tersebut menjadi sangat tawadhu (rendah hati) dengan merasakan keagungan mengenal Allah SWT dalam jiwanya, sehingga rapat-rapat ia menyimpan rahasia bahwa ia diberi karunia keyakinan ma`rifatullah, kecuali kepada hamba-hamba Allah SWT yang benar-benar sangat ingin mendamba-Nya. Seorang hamba yang diberi karunia lezatnya ma`rifatullah (melihat Allah SWT dalam setiap tempat dan keadaan), maka seiring dengan bertambah ketaatannya, bertambah pula ma`rifatullah pada dirinya.
Sampai diam-diam Allah SWT mengangkatnya kepada derajat para wali Allah yakni hamba-hamba yang dicintai dan dibela Allah SWT. Meski kadang hamba-Nya tersebut tidak menyadari derajatnya, karena ia merasa tidak pantas dan begitu hina. Tetapi Allah SWT tidak melihat rupa maupun pakaian, Dia hanya melihat hati hamba-hamba-Nya. Jadi bukanlah seorang wali Allah itu mesti bisa berbuat hal-hal yang aneh diluar nalar (meskipun sah-sah saja bila Allah menghendaki), sebab jika demikian yang menjadi cirinya maka seorang tukang sulap atau sihir juga mampu berbuat hal-hal aneh. Seorang wali Allah itu biasa-biasa saja. Pakaian tidak bisa menjadi ciri dan ukuran. Akan tetapi ia harus memiliki 3 ciri : 1. Hatinya selalu tentram bersama Allah dan tidak takut pada sesuatu apapun. Sebagaimana firman Allah : ”Ketahuilah sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada ketakutan dan kekhawatiran pada diri mereka”.
2. Hatinya bergetar bila disebut nama Allah dan bertambah imannya bila dibacakan ayat-ayat Allah SWT. 3. Selalu mendekatkan diri pada Allah, terutama pada malam hari saat orang-orang lain tertidur nyenyak.
Begitulah, gambaran seorang hamba yang telah mendapatkan dan merasakan manisnya selalu bersama Allah SWT. Oleh karenanya kita
tidak boleh meremehkan sembarang orang, meskipun dalam penglihatan kita ia biasa-biasa saja.
Ma`rifatullah itu anugerah-Nya, bisa kepada hamba laki-laki atau wanita. Dalam khazanah perjalanan ummat Islam ada banyak orang mukmin yang mendapatkan anugerah luar biasa ini, sebut misalnya Al Junaid al Baghdadi, Imam Ghazali, Abdul Qodir al Jailani, Dzun Nun al Mishri, Ibrahim bin adham, Hasan al Bashri, syekh Ibnu athailah dll, atau seorang wanita bernama Rabi`ah al Adawiyah. Apalagi pada masa awal-awal ummat Islam; sebut misalnya keluarga Rasulullah saw, Khalifah Rasyidin, sahabat Rasulullah seperti Salman al Farisi, Abu dzar al Ghifari, Uwais al Qarni, dll.
Berbagai pengertian tentang ma`rifatullah pun telah mereka ungkapkan. Menurut banyak kalangan ahli hikmah, bahwa ma`rifatullah ialah mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT , maka sebagai bukti pengenalannya ialah ketundukannya kepada Allah SWT, dengan meninggalkan sifat-sifat tercela, selalu ingat kepada Allah SWT, sehingga Allah mencintainya dan memberi karunia kepadanya yang berupa petunjuk dan keyakinan.
Imam Ghazali menerangkan, bahwa ma`rifat menurut pengertian bahasa ialah ilmu pengetahuan yang tidak bercampur dengan keraguan sedikitpun, yang obyek pengetahuan tadi ialah zat dan sifat Allah SWT.
Abu Zakaria Anshari berkata, bahwa ma`rifat ialah ilmu pengetahuan yang sampai ke tingkat keyakinan yang mutlak dalam meng-Esa-kan Allah SWT.
Syekh Ibnu Athailah al Iskandari dalam kitabnya Taajul `Arus membagi ma`rifatullah menjadi dua macam, yakni:
- Ma`rifatullah yang umum ialah mengenal Tuhan yang diwajibkan kepada seluruh mahluk-Nya, seluruh mahluk-Nya diwajibkan untuk mengenal zat-Nya, kemudian memuji dengan pujian yang sesuai dengan keadaan setiap mahluk masing-masing.
- Ma`rifatullah yang khusus ialah pengetahuan yang lahir dari musyahadah (penyaksian hati), maka seorang arifin billah ialah orang yang telah mengenal zat, sifat, asma, dan af`al Allah SWT dengan perantara musyahadahnya.
Adapun yang wajib bagi setiap kita ialah keinginan untuk mengenal zat, sifat dan hikmah dari Allah SWT serta menolak segala sifat kekurangan dan menetapkan segala sifat kesempurnaan bagi Allah SWT.
Ada 3 jalan untuk mengenal Allah SWT, yakni :
a. Jalan Naluri atau pembawaan sejak lahir yang biasa juga disebut fitrah.
b. Jalan Wahyu, yang tersurat dalam Kitab-Kitab Suci yang diturunkan Allah SWT dengan perantaraan Rasul-Nya, dan kini hanya Al-Qur`an yang masih terpelihara keasliannya.
c. Jalan Hikmah, yakni kepandaian menggunakan akal pemikiran dengan memperhatikan bukti-bukti alam yang ada.
Pada iman yang bersandarkan ma`rifatullah itulah ditemukan kemantapan aqidah yang tak tergoyahkan, bagai pohon yang sangat kekar, akarnya terhujam kokoh kedalam bumi. Bila iman dan tauhid tumbuh dalam taman sari ma`rifah, maka sungguh subur dan kuatlah itu. tingkat ma`rifah yang demikian itulah yang membuahkan ilmul-yaqin dan haqqul yadin. Pada taman sari itulah tumbuh subur keberanian (syaja`ah), kebulatan tekad, kekuatan pribadi, kedamaian hati, ketenangan bathin dan kebahagiaan hidup yang memancarkan sinar rahmat dan keberkahan untuk sekelilingnya. Sehingga apabila keimanan dan ma`rifah telah menyatu, maka terasalah halawatul-imaan, manis sedapnya iman.

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Google Hot Trends