ANTARA-Indonesian News

RENUNGAN: Menggapai Ridho Allah...




Saudaraku kaum muslimin yang dirahmati Allah SWT !
Sudah sepatutnyalah kita bersyukur kepada Allah SWT, dan segala puja-puji hanyalah milik Allah SWT. Dialah Ar-Rahman Ar-Rahim yang senantiasa melimpahkan berbagai nikmat, rahmat, ampunan, serta hidayah. begitu besar karunia-Nya kepada kita ummat manusia sehingga hendaknya kita malu kepada Allah dari hari-hari kita yang berisi dosa dan maksiat kepada-Nya. sebaliknya mestinya kita dapat mempersembahkan kesungguhan kita untuk menjadi orang-orang bertaqwa kepada Allah SWT.
Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada seorang figur teladan yang diangkat menjadi kekasih Allah yakni baginda Nabi Muhammad Rasulullah, beserta para keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan orang-orang yang shalih yang mengikutinya sampai hari akhir.

Saudara-saudaraku semoga setiap waktu dan hari-hari yang kita jalani semakin menyadarkan kita pada kehambaan diri ini kepada Allah SWT. sehingga setiap amal perbuatan baik yang dilandasi ketulusan dan keikhlasan kepada Allah diterima disisi-Nya. Amin Yaa Robbal ‘Alamin. Saudara-saudaraku, adalah sebuah keberuntungan jika dapat benar-benar menyadari kehambaan diri kita kepada Allah SWT. Sebab jika telah muncul kesadaran itu bukan hanya gerak tubuh kita yang menunjukkan kehambaan kepada Allah, tapi lebih penting lagi adalah hati kita.
Saudaraku sekalian yang dirahmati Allah SWT !
Didalam Al-Qur’an Al-Karim surat Al-A’raaf ayat 172 Allah SWT telah menegaskan bahwa Allah telah mengambil janji persaksian pada ruh-ruh kita dahulu saat Dia akan meletakkan kehidupan pada jasad ini, firman-Nya:

{...Dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman): ”Bukankah Aku ini Tuhanmu ?” mereka menjawab, ”Benar (Engkaulah Tuhan kami), kami bersaksi ”}.

Jadi dahulu kita telah berjanji untuk menjadikan Allah SWT sebagai Rabb kita, sehingga kalimat syahadat atau tahlil yang kita nyatakan sejatinya adalah bentuk ikrar pemantapan kembali janji kita untuk menghamba hanya kepada Allah SWT. Hal inilah yang mesti kita sadari. Ini penting, sebab jika kesadaran seorang hamba telah tumbuh / hidup, maka jadilah dalam jiwanya seruan:

tidak ada yang dicari selain rahmat Allah, tidak ada yang disembah selain Allah, tidak tujuan dan dambaannya selain ridho Allah SWT.
Saudara-saudaraku sekalian !
Kini pertanyaannya, dengan apa kita menggapai ridho Allah SWT ? jawabnya, dengan iman dan amal shalih.

Saudaraku yang dirahmati Allah SWT !
Hidup yang kita jalani ini adalah berbilang hari, bulan, dan tahun, silih berganti; ada senang ada susah, ada bahagia ada nestapa, ada kemudahan ada kesukaran semuanya itu harus dapat kita sikapi dengan kekuatan iman kepada Allah SWT. Saat diberi kesenangan / kenikmatan iman kepada Allah harus berperan dalam hati kita, saat diberi kesusahan dan musibah pun iman kepada Allah harus kita munculkan. Sayang sekali akhir-akhir ini kita mendapatkan informasi dari media televisi, bahwa di daerah jombang Jawa Timur, ada gambaran ribuan orang-orang Islam yang beramai-ramai mendatangi dukun cilik karena percaya betul pada pengobatan tidak logis yang ia berikan. Terlepas dari sisi perihal pelayanan kesehatan daerah, hal ini adalah contoh bagi kita bagaimana jika iman mengeropos dan luntur dari jiwa, atau iman tidak lagi memainkan peranan dalam hati saat Allah memberikan ujian-ujian kehidupan. Dan satu hal, ini pelajaran dari Allah SWT untuk kita semua. Firman Allah SWT pada sebuah ayat setelah ayat kursi:

{Sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan petunjuk/jalan yang benar dari jalan yang sesat. barangsiapa yang ingkar dengan thaghut, dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang teguh dengan tali yang kuat yang tidak akan putus}.(Qs.Al-Baqarah:256).


{Milik-Nyalah(Allah) kerajaan langit dan bumi dan hanya kepada-Nya dikembalikan segala urusan}.(Qs. Al-Hadid:5}


{Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul mengajak kamu beriman kepada Tuhanmu ? Dan Dia telah mengambil janji (setia)mu, jika kamu orang-orang yang mukmin}.(Qs.Al-Hadid: 8).

Saudara-saudaraku, jadi iman kepada Allah lah yang Allah minta dari kita atas janji setia kehambaan kita, dan hal itu agar kita senantiasa berada dijalan petunjuk-Nya serta mendapatkan keridhoan dari-Nya, dan dengan iman akan muncul dan tumbuh subur ketakwaan kepada Allah SWT.
Saudaraku sekalian yang dirahmati oleh Allah SWT ! setelah iman kepada Allah, maka sebagai hamba-Nya kita pun mesti membuktikannya dengan beramal shalih. Adapun amal shalih, ia tumbuh dari akhlak mulia, baik akhlak mulia / adab kepada Allah maupun kepada sesama mahluk Allah SWT. Sebagai contoh sederhana, saat kita memasuki masjid lalu shalat dua raka’at atau duduk diam berzikir adalah akhlak kepada Allah SWT, sebab masjid ialah rumah Allah Sang Pencipta kita yang sudah sepantasnya bila kita hadir didalamnya dengan penuh khusyuk, tawadhu, dan khudu’. Dan Allah Maha Melihat segala perbuatan kita.
Adapun diantara akhlak pada sesama manusia yang sangat disenangi Allah SWT adalah sebagaimana firman-Nya:

{Dan apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu}

Dengan kata lain jika ada suatu kebaikan datang kepada kita dari orang lain, maka hendaknya kita membalasnya dengan yang lebih baik atau yang sepadan dengan kebaikannya.
Adapun jika kita mendapatkan keburukan, kejahatan, atau gangguan dari orang lain, maka Allah SWT memerintahkan kita agar menolaknya dengan sikap yang lebih baik, yakni memaafkan. sebagaimana firman-Nya:

{Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu, dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumiyang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. yaitu orang-orang yang berinfak , baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang berbuat kebaikan}. (Qs.Ali Imran:133-134).

Saudaraku sekalian yang dirahmati Allah !, dengan kedua akhlak mulia inilah akan terjalin suasana yang kondusif penuh dengan kedamaian dan persaudaraan. Sebaliknya jika kita tidak melakukan kedua akhlak mulia ini, maka akan muncul benih-benih permusuhan, persengketaan atau bahkan terjadi perkelahian antar orang-perorang, antar golongan, antar suku, antar pemuda, antar penduduk dan seterusnya.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah SWT !
Dari uraian tadi jadi jelaslah bahwa untuk menggapai ridho Allah SWT, kita memerlukan iman dan amal shalih yang tumbuh akhlak mulia. Sebagaimana firman Allah Azza Wa Jalla dalam Al-Qur’an surat Al-bayyinah ayat 7-8:

{Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik mahluk. Balasan mereka disisi Tuhan mereka ialah surga ’Adn yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridho terhadap mereka dan mereka ridho kepada-Nya Yang demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada Tuhannya}.

Sehingga jika sebuah pertanyaan muncul dalam hati, yakni bagaimanakah agar Allah ridho kepada kita ? maka jawabnya dari ayat tadi ialah kita mesti ridho pula dengan Allah SWT sebagai Rabb kita, lalu kita beriman kepada-Nya dan mengerjakan amal-amal shalih yang diperintahkan-Nya. Mudah-mudahan kita semua dibersihkan hati kita oleh Allah SWT dan digolongkan-Nya kedalam golongan orang-orang mendapatkan petunjuk serta keridhoan-Nya. Amin Yaa Robbal ’Alamin.
Wassalamu`alaikum Wr.Wb

Buku karyaku: FOUR WISDOMS FOR ALL





FOUR WISDOMS FOR ALL

Pendahuluan

Kata Pengantar

Segala puji hanyalah milik Allah Tuhan yang Maha Menguasai seluruh kerajaan alam semesta. Dialah Tuhan yang Maha Menciptakan mahluk-Nya, lalu Dia menentukan tempat hidup dan peran mereka masing-masing. Dan Dialah Tuhan yang telah Mewariskan kehidupan yang baik bagi orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan.
Shalawat dan salam sejahtera atas Nabi yang mulia Muhammad Saww, seorang manusia pilihan Allah SWT yang mengajarkan manusia nilai-nilai keluhuran abadi dan nilai-nilai kemuliaan tertinggi. Sungguh akhlak pribadinya yang indah tak tertandingi dapat membuka mata berjuta-juta manusia melihat makna-makna hidup sejati.
Pembaca yang budiman, kehidupan adalah anugerah sekaligus amanah terbesar dari Allah SWT Tuhan seru sekalian alam, sehingga kita mesti pandai memanfaatkannya. Adalah fitrah bahwa setiap orang menginginkan hidup yang berarti. Dan kita memang mendapat tugas untuk memakmurkan bumi ini dengan selimut “atmosfir” kebajikan. Lalu perihal bagaimana cara memakmurkan bumi ini adalah perkara mudah sebenarnya. Sebab sesungguhnya alam bumi tempat kita tinggal telah mengajarkan kepada kita nilai-nilai kehidupan yang bisa kita renungi, kemudian kita dapat memilih yang sesuai dengan akal pikiran dan hati nurani kita sebagai manusia.
Pembaca yang budiman, kebajikan (al-Khairaat) adalah buah dari kebijaksanaan (al-hikmah/wisdom) yang meresap dan mengendap dalam hati sanubari seseorang, layaknya seperti vitamin yang menyatu bersama aliran darah. Berbagai nilai-nilai kebijaksanaan yang ia peroleh menjadi prinsip dalam hidupnya. Dan jadilah ia, seorang manusia yang memiliki pijakan yang kuat, tujuan hidupnya jelas, kemanapun ia melangkah atau di manapun ia berada, maka kehadirannya selalu untuk menanam pohon kebajikan yang telah lama dirindukan banyak orang. Sungguh seseorang yang berjalan dengan prinsip hidup yang baik dan luhur adalah sama seperti orang yang berjalan membawa pelita/cahaya. Kemudian cahaya itu menjadi penerang bagi dirinya dan bagi orang-orang yang ada disekitarnya.
Pembaca yang budiman, buku yang ada dihadapan Anda ini buku yang berisi uraian tentang empat kebijaksanaan (“Four Wisdom”) yang patut diterapkan oleh siapa saja (“For All”) dan dimana saja. Oleh karena itu siapa pun Anda, beragama apapun Anda, dan berstatus sosial apapun, penguasa, pemimpin, rakyat, guru, pelajar, aparat, pegawai, atau Anda menamakan diri Anda bukan siapa-siapa/orang biasa, maka bila buku ini sampai kehadapan Anda, Anda tetap dapat membaca buku ini. Sebab buku ini dibuat tidak dikhususkan bagi golongan tertentu. Adapun bila didalam buku ini ditemukan kutipan-kutipan Ayat Al Qur’an beserta maknanya atau makna dari Hadist Nabi Muhammad Saw, hal itu tidak lain adalah karena penulis seorang muslim yang hanya berusaha menyampaikan apa yang diketahuinya dan diyakininya. Sedangkan Anda sangat boleh sama keyakinan agama dengan penulis atau berbeda dan mengunakan dalil (argumentasi) dari ajaran keyakinan sendiri yang Anda ketahui. Penulis sekedar menginginkan kebersamaan dalam kemajuan bangsa.
Kemudian tentunya penulis berharap semoga buku ini dapat turut memberikan nuansa hikmah kepada Anda, dan selanjutnya Andalah yang membangkitkan serta menggugah kesadaran diri Anda sendiri. Semoga Tuhan senantiasa memberikan petunjuk-Nya kepada kita semua agar menjadi orang yang bijak terhadap diri sendiri dan sesama. Dan hanya orang-orang yang bijaklah yang tidak membiarkan ada nilai-nilai kebijaksanaan lewat begitu saja.
Akhirnya, sebagai manusia biasa, penulis memohon dengan segala kerendahan hati agar Anda dapat memaklumi bila menemukan berbagai kekurangan dalam buku ini, dan tentunya penulis akan sangat senang hati bila ada saran atau kritik yang dapat disampaikan. Sekian, selamat membaca!.
W a s s a l a m,
Jakarta, 12 Rabiul awwal 1429 H

Hormat Penulis,

AlFaqir Wisnu Abdul Jawad





PAGE I.

Inspirasi dan Dasar Pemikiran


Allah SWT telah berfirman dalam Kitab Al Qur’an Al Karim:
{Dan bagi tiap-tiap ummat ada kiblatnya sendiri yang kepadanya mereka menghadap. Maka berlomba-lombalah kamu dalam (berbuat) kebaikan. Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha kuasa atas segala sesuatu}. {Qs. Al Baqarah: 148}.


{Dan nafkahkanlah {harta bendamu dan kemampuan apa yang kamu miliki} di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik}. {Qs.Al Baqarah: 195}.




PAGE II


P E R S E M B A H A N


Aku persembahkan buku ini sebagai bagian dari baktiku kepada Tuhanku, Ibu, Ayah, Guru-guru, istriku, keluarga, adik-adik, sahabat dan serta siapa saja yang telah menjadi contoh suri tauladan bagiku.

Harapan semoga Ibu, Ayah, istriku dan saudaraku yang lainnya mendapat pahala yang sempurna dari Allah Tuhan yang Maha Kaya. Buku ini pun kuharap menjadi bagian bakti kecilku kepada negeriku, semoga Tuhan membuatmu mampu bangkit berdiri kembali…

Seorang Hamba,
Al Faqir Wisnu Abdul Jawad


PAGE III

W I S D O M 1
“Berikanlah tongkat kepada orang yang buta”
Ungkapan diatas, bisa kita artikan secara tersurat yakni kita memberikan tongkat kepada orang yang buta. Namun bisa pula kita terjemahkan secara tersirat yakni memberitahukan kepada orang yang belum mengetahui, memberikan pemahaman kepada orang yang belum paham, memberikan pengertian kepada orang yang belum mengerti, memberikan petunjuk kepada orang yang sedang mencari petunjuk, serta membimbing dan menuntun kepada orang yang masih membutuhkan tuntunan. Siapa pun kita, hendaknya dapat menerapkan ajaran bijak ini, tentunya sesuai dengan kadar kemampuan kita masing-masing. Bila kita berprofesi sebagai guru, maka tugas mulia ini memang sudah menjadi kewajiban. Namun sebenarnya setiap kita adalah “guru”. Bukankah bila kita memiliki anak, kitalah yang mengajarkannya berjalan, berbicara, dan lain sebagainya. Hanya saja untuk memberikan pengetahuan yang lebih dari itu, kita pun mesti memiliki ilmu pengetahuan yang lebih. Sebab ada ungkapan bijak: “Seseorang yang tidak memiliki apa-apa tidak akan mengeluarkan sesuatu pun”, atau “sebuah kendi yang kosong tidak akan mengeluarkan air”. Jadi untuk dapat memberitahukan sesuatu kepada orang lain, kita mesti mengetahui sesuatu itu terlebih dahulu, bukankah agar dapat memberikan “tongkat”, maka tongkat itu mesti berada ditangan kita sendiri terlebih dahulu?. Artinya, ajaran bijak ini menuntut kita untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan kemampuan diri kita terlebih dahulu sebelum membagikannya kepada orang lain. Lebih dari itu secara individu, kita pun sebenarnya adalah guru bagi diri sendiri. Seperti halnya kita mengambil pelajaran dari setiap pengalaman yang pernah kita alami, lalu mengajarkan pada diri sendiri bagaimana seharusnya kita berbuat dan melangkah di kemudian hari.
Sungguh ajaran bijak ini mengandung menfaat yang sangat besar bila kita dapat mengamalkannya. Lihatlah alam telah mengajarkan kita, sebelum turun hujan, langit biasanya memberitahukan kepada semua mahluk dibawahnya dengan warna awannya yang mendung hingga gelap dan pekat. Sehingga dengan begitu manusia dapat mengamankan lebih dahulu pakaian-pakaian atau lainnya yang sedang dijemur, lalu mereka pun mencari tempat berteduh, begitu pula hewan-hewan masuk kedalam sarang mereka masing-masing. Lihatlah gunung mengepulkan asap pekat terus-menerus dan bergetar bila ingin meletus, datangnya malam ditandai dengan terbenamnya matahari disebelah barat, datangnya pagi ditandai dengan terbitnya matahari disebelah timur, dan hewan-hewan memberitahukan kawannya bila ada makanan atau bahaya. Adapun dalam kehidupan manusia, para orang tua mengajarkan anak-anaknya dalam menyikapi kehidupan, disekolah para guru memberitahukan murid-muridnya bila saat ujian akan tiba, ditempat ibadah atau dirumah-rumah para penyeru agama memberitahukan ummatnya jalan keselamatan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Diri kita pun diingatkan dengan uban-uban yang tumbuh dikepala, kulit yang makin mengeriput disekujur tubuh, dan tenaga yang makin melemah dari yang kita punya sebelumnya.
Memang begitulah semestinya, sehingga bagi para penguasa dan pemimpin pun hendaknya memberitahukan (mensosialisasikan) terlebih dahulu menfaat-manfaat apa saja yang bisa diraih oleh masyarakat dari setiap kebijakan yang akan ditetapkan. Diharapkan dengan memberikan pengertian yang baik dan benar, akan melahirkan kerelaan hati masyarakat untuk menjalankan setiap kebijakan yang ditetapkan. Sebab akan beda rasa dan hasilnya, suatu kebijakan yang dijalankan dengan terpaksa dan berat hati dengan kebijakan yang dilaksanakan dengan penuh kerelaan hati. Adapun bagi siapa saja yang merasa sebagai “orang biasa”, maka berikanlah sesuatu sesuai kadar yang kita mampu, meskipun kecil atau remeh. Sebab bisa jadi apa yang menurut kita kecil atau remeh adalah besar serta berharga di mata orang lain dan Allah SWT. Dan sudah tentu Allah menyukai orang-orang yang gemar memberikan pengetahuan dengan penuh keikhlasan. Jadi tunggu apa lagi perkayalah diri kita dengan memperbanyak ilmu pengetahuan, membuka wawasan, atau …tunjukkanlah jalan kepada orang yang sedang mencari-cari jalan dan tujuan agar orang itu tidak tersesat, berikanlah nasihat kepada orang yang meminta nasihat, tunjukkanlah jalan keluar (solusi) kepada orang yang sedang ditimpa masalah, ajarkanlah ilmu kepada para penuntut ilmu, ajarkanlah cara-cara meraih hidup sukses, ajarkanlah cara-cara berdagang yang baik dan benar kepada sesama pedagang, ajarkanlah cara berbisnis yang paling baik kepada sesama usahawan, ajarkanlah cara bekerja yang baik dan benar kepada para karyawan, ajarkanlah cara belajar yang efektif kepada para pelajar, dan bagi para pemimpin ajarkanlah setiap kebaikan kepada orang-orang yang tuan pimpin dengan contoh suri tauladan. Berikanlah perhatian kepada orang-orang yang masih terkungkung kebodohan, keterbelakangan, atau kelalaian (Al-ghofilin, dalam bahasa agama Islam).
Pada dasarnya setiap insan berhajat pada ajaran ini, sebab dengan pengamalan terhadap ajaran bijak inilah kehidupan dapat terus maju dan berkembang. Bukankah setiap kita memiliki masalah (problem) sehingga kita membutuhkan nasihat, bukankah bila kita mahir dalam satu hal, kita tidak mahir dalam hal lainnya sehingga setiap kita masih membutuhkan pengetahuan dari orang lain yang lebih mahir, dan bukankah bila kita pintar berilmu, maka ada lagi yang lebih pintar berilmu daripada kita, “diatas langit masih ada langit” begitulah kata peribahasa, sehingga setiap kita masih membutuhkan guru.
Namun ada cara bijak tersendiri bila kita ingin mengamalkan ajaran bijak ini. Yakni dalam mengajarkan atau memberitahukan sesuatu kepada orang lain, bila orang yang kita ajarkan itu adalah lebih muda usianya atau masih rendah keilmuannya, seperti seorang guru yang mengajar murid-muridnya, seorang ustadz yang mengajar santri-santrinya, maka sampaikanlah ajaran kita dengan penuh rasa kasih sayang yang berpadu dengan ketegasan, sedang bila orang yang kita ajarkan itu seusia atau setingkat keilmuannya dengan kita, atau orang itu kawan sejawat kita, maka keadaan seperti ini mungkin tidak begitu sulit bagi kita, sebab kita dapat mencari ungkapan yang “pas” sebagaimana biasanya kita berinteraksi dengannya. Adapun bila orang yang ada dihadapan kita adalah seorang yang lebih tua usianya, atau bisa jadi lebih tinggi keilmuan dan status sosialnya dari kita, maka carilah ungkapan kata-kata yang sopan dan jelas, sehingga kita tidak terkesan mengguruinya atau ia tidak merasa tersinggung dengan apa yang kita sampaikan. Hal-hal yang disebutkan diatas tadi meskipun terlihat sederhana, namun bukanlah perkara yang sepele. Sebab kesalahan cara menyampaikan biasanya bisa berakibat fatal. Dalam hal ini Rasulullah Saww menyarankan agar kita menyesuaikan diri dan pembicaraan saat menghadapi lawan bicara. Sebagaimana yang disampaikan oleh istri beliau ‘Aisyah : “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa alihi wasallam memerintahkan kami untuk menempatkan manusia sesuai dengan kedudukan mereka” (HR. Muslim, Syarah An-Nawawi no. 55/1). Sehingga yang tidak kalah pentingnya pula yakni bahwa kita mesti dapat menggunakan ungkapan kata-kata yang mudah dimengerti dalam menyampaikan ajaran, nasihat atau tuntunan sesuai dengan tipe orang yang berada dihadapan kita. Sebagaimana Imam ‘Ali bin Abi Thalib karromallahu wajhahu mengajarkan: “Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan kemampuan akal fikiran mereka”. (HR.Bukhari, Fathul Bari, Kitabul Ilmi no.225/1). Dan diantara ciri-ciri orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengemas apa yang akan disampaikannya dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh sipendengarnya. Oleh sebab itu kita harus mengetahui dan memahami kondisi manusia, apa yang baik dan sesuai bagi mereka dan apa yang tidak baik bagi mereka. Benarlah ungkapan ulama, bahwa setiap tempat ada pembicaraannya sendiri. Tiap waktu mempunyai peristiwa tersendiri. Tiap manusia mempunyai kecocokan masing-masing. Tiap kejadian ada ceritanya sendiri.
Sungguh dalam ajaran bijak ini, terdapat kebaikan yang besar dan akan mendatangkan pahala bagi siapa saja yang mengamalkannya. Ajaran bijak inilah yang bila diterjemahkan kedalam bahasa daerah Jawa Tengah - sebagaimana yang saya tanyakan kepada Ayah saya – menjadi: “Menehono teken marang wong kang wuto”. Dan anda pun dapat mencari terjemahan sendiri dalam bahasa daerah anda.
Pembaca yang budiman, ada sebuah hadist Nabi Muhammad Saww yang bisa menjadi motivasi bagi kita; yakni beliau bersabda: “Barang siapa yang memberi petunjuk atas suatu kebaikan maka baginya pahala, sebagaimana besarnya pahala orang yang mengerjakannya, sedangkan pahala mereka tidak dikurangi sedikitpun” (HR.Muslim, dalam kitab shahihnya Bab 16 hadist no.227). jadi hadist ini mengisyaratkan adanya pahala kebaikan bagi orang yang memberikan petunjuk, sama seperti besarnya pahala bagi orang yang melaksanakannya. Lalu bukankah suatu keberuntungan bila orang yang kita beri petunjuk mengamalkan apa yang kita tunjukkan dengan sempurna dan penuh kerelaan hati?. Selain keuntungan ini, kita pun akan mendapatkan kemuliaan dan ketinggian derajat di tengah-tengah manusia sebagai karunia dari Allah Tuhan yang Maha Bijaksana.

selanjutnya ,silahkan menanti....

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Google Hot Trends