ANTARA-Indonesian News

Resensi buat film KCB

KETIKA CINTA BERTASBIH
film Indonesia pertama yang mengambil latar sepenuhnya di bumi Mesir

Jodoh itu ditangan Tuhan, namun manusia wajib berusaha dan berdoa. Itulah pesan yang ingin disampaikan Sutradara Chairul Umam. Dengan mengadaptasi sebuah novel best seller karya penulis besar Habiburrahman El Shirazy, ia berhasil menyuguhkan kepada penonton sebuah detail yang cukup mengagumkan dari pemandangan Mesir dengan Pyramid, Sphinx, Sungai Nil, Kota Alexandria, Banteng Qait Bait, dan juga indahnya laut Mediterania yang sungguh menakjubkan Semua itu ia rangkum dalam film drama religi terbarunya, KETIKA CINTA BERTASBIH. Dalam film ini, Chaerul seakan mengajak penonton menyelami dunia seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Mesir. Kebimbangan melanda diri Azzam, karena didalam ajaran Islam tidak mengenal istilah pacaran, yang ada hanyalah “ta’aruf”. Dan selama menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar Kairo, Azzam juga harus bekerja keras menghidupi ibu dan adik-adiknya di kampung. Berhasilkah Azzam menemukan jodoh lewat jalan yang ditetapkan ajaran agamanya tersebut?
Kejelian strategi rumah produksi Sinemart dengan memasang bintang-bintang baru memungkinkan karakter dalam film ini bisa secara bebas terbentuk. Ternyata tidak hanya para pendatang baru saja, dalam film ini juga bermain aktor dan aktris kawakan seperti Deddy Mizwar, Niniek L. Karim, El Manik, Slamet Raharjo, Aspar Paturusi dan juga Didi Petet. Uniknya lagi sang penulis Habiburrahman El Shirazy dan Tokoh Islam Prof.dr. Din Syamsudin seakan tidak mau ketinggalan untuk ikut ambil bagian meramaikan film ini.
Film yang paling ditunggu-tunggu tahun 2008 ini akhirnya dapat memunculkan wujudnya di pertengahan tahun 2009 ini. Setelah beberapa bulan dilewati dalam pengambilan gambar di bumi Mesir, seluruh kru dan para pemain dapat menghembuskan nafas lega ketika film ini rampung. Kabarnya, film ini merupakan gabungan dari dua novel KETIKA CINTA BERTASBIH karangan Habiburrahman El Shirazy yang belum cukup puas dengan mengadaptasi novel sebelumnya yang berjudul AYAT AYAT CINTA ke layar lebar arahan sutradara Hanung Bramantyo tahun 2008 lalu.
Film ini masih memakai strategi yang dimiliki AYAT AYAT CINTA sebelumnya, yaitu dengan merilis album soundtracknya terlebih dahulu sebelum filmnya beredar. Akan tetapi, kita telah dapat menyaksikan sebuah perjuangan cinta yang bertasbih di bioskop-bioskop tanah air mulai 11 Juni 2009 .

Sinematografi & Perfilman Indonesia

Sinematografi Korea mungkin masih dianggap terlalu muda jika dibandingkan dengan Hollywood yang menjadi pionir dalam industri film. Tetapi keunggulan industri film tidak hanya ditentukan oleh lamanya pengalaman namun juga kreatifitas para sinematograf. Sebagai negara yang telah maju di bidang perekonomian, apresiasi terhadap seni film yang dilakukan para aktor di depan maupun di belakang layar lebar tentulah berpengaruh positif terhadap kesuksesan dunia perfilman Korea. Apresiasi terhadap profesionalitas kerja yang dilakukan para tokoh seni tersebut tentulah dengan memproduksi sinema-sinema berkualitas dan berkelas dunia. Jika dicermati, para kreator dapat maksimal berkreatifitas jika didukung oleh suasana politik dan ekonomi yang stabil. Dengan melihat perkembangan sinematografi, kita dapat melihat bahwa perfilman Korea secara bertahap mengejar kesuksesan dunia perfilman Hollywood.

Membicarakan perkembangan film, tentunya terelasi dengan sejarah lahirnya film di Korea hingga kesuksesannya sejauh ini. Munculnya film pertama kali di Korean sekitar tahun 1923, saat Korea berada dalam kungkungan pemerintah Jepang. Karena isinya mengkritik kekejaman polisi Jepang, pemerintah segera memberlakukan sensor ketat demi kepentingan politiknya. Setelah berakhirnya pemerintahan Jepang pada 1945, industri perfilman kolaps karena adanya perang saudara yang akhirnya memisahkan Korea menjadi dua bagian; utara dan selatan. Baru tahun 1955 dunia layar lebar mulai bangkit dan berjaya selama 15 tahun.
Ketatnya sensor yang diberlakukan, kembali membunuh insan perfilman. Di era 1980an, konstitusi baru yang memberikan angin segar terhadap dunia film. Sedikit demi sedikit pemberlakuan sensor dihapus. Pelarangan impor film-film barat juga dicabut, tapi hal tersebut menyebabkan film-film domestik kehilangan pasar. Selanjutnya beberapa perusahaan raksasa atau istilah Koreanya, chaebol, turut terjun dalam bisnis perfilman sebagai penyandang dana sekaligus rumah produksi. Tahun 1996 ditandai dengan lahirnya sutradara-sutradara inovatif yang menyuguhkan sinema-sinema ber-genre baru. Hal tersebut mampu menarik kembali minat penonton menyerbu film-film dalam negeri.
Melihat perkembangan blantika perfilman Korea diatas, kejayaan film tidak lepas dari kebijakan positif pemerintah dibidang sensor. Tak dapat dipungkiri, ketatnya kontrol pemerintah terhadap film dapat membunuh kreatifitas para pembuat film. Beberapa dasawarsa yang lalu, Korea terkenal sebagai negara yang paling ketat dalam memberlakukan sensor. Pada tahun 1973, pemerintah mengesahkan Undang-Undang Perfilman tentang double censor, yang berarti semua film harus melewati dua kali penyuntingan; pra-produksi dan pasca-produksi. Jika diketahui isi film berbeda dengan proposal yang diajukan kepada pemerintah, maka film tersebut mendapat label cekal. Sehingga ketika Undang-Undang Perfilman segera direvisi pada tahun 1985, semangat pencipta-pencipta seni dalam berkreasi kembali bangkit.
Dibukanya kebebasan berkreatifitas mengundang para pembuat film untuk tidak ragu mengangkat polemik politik sebagai tema film mereka. Salah satunya adalah Simildo (2003), film unggulan karya sutradara berpengalaman, Kang Woo-seok. Kang pernah menyatakan bahwa film hasil garapannya hanyalah film berbasis entartainment biasa, dia tak pernah bermaksud menyinggung masalah-masalah sosial. Kenyataannya, Simildo merupakan film yang tidak secara sengaja mengambil latar belakang politik dan berhasil memuaskan animo penonton terhadap sinema lokal. Film ini diangkat berdasarkan peristiwa nyata di Semenanjung Korea tahun 1971 pada masa perang dingin antara dua Korea yang bertikai. Film yang terang-terangan mengungkap sejarah yang terkebiri ini merupakan sebuah refleksi nyata kemajuan demokrasi di Korea Utara. Jika Kang merilis film sejenis pada 30 dasawarsa yang lalu, pasti film tersebut dan dicekal dan dia ditahan. Keberanian Kang mempublikasikan polemik yang terjadi diantara Korea Selatan dan Korea Utara berhasil memenangkan penghargaan Nobel Perdamaian dari Presiden Kin Dae Jung pada tahun 2000.
Selain dukungan pemerintah, menguatnya bisnis perfilman Korea juga dipengaruhi kesuksesan dibidang bisnis dan stabilitas perekonomian. Di penghujung 1980an, perindustrian film terpuruk akibat kalah bersaing dengan produksi-produksi Hollywood. Salah satu anggota chaebol ikut bergabung mengelola industri film dan memberi dukungan finansial serta mengatur tentang produksi, ekshibisi, distribusi sebuah film. Marriage Story (1992) yang disutradai oleh Kim Ui-seok merupakan film pertama yang pengerjaannya di bawah Samsung.
Kebesaran industri film sangat tergantung pada kreatifitas dan kontinuitas para pencipta film dalam berkarya. Dalam hal ini Korea memiliki banyak sutradara berbakat yang terus menerus memperkokoh panggung layar lebar. Adalah Im Kwong Taek sebagai salah satu sutradara yang antusias memajukan sinematografi Korea. Segera setelah menyadari mutu film-film produksinya hanya berorientasi pada komersialisme dengan mutu jauh dibawah sinema-sinema barat, Im mulai memproduksi film yang lebih berorientasi pada seni. Dia mencoba berkreasi dan menggali kembali elemen tradisional dan budaya Korea yang terlupakan, sehingga terciptalah film Mandala (1981). Karya spektakulernya Sopyonje (1993) mampu membangunkan kembali nilai seni sinematografi Korea. Sebuah film ber-genre popular baru Marriage Story (1992) karya Kim Ui-seok mendapat sambutan meriah dengan menyajikan film komedi perang dan romanisme. Film yang mulai berani menyentuh dunia politik sebagai bentuk kebebasan berekspresi disuguhkan Park Kwang-soo dalam Chilsu and Mansu (1988) dan Kang Woo-seok dengan Simildo (2003). Dari tangan-tangan dingin merekalah lahir film-film yang mampu menggerakkan mata dunia menyaksikan film-film Asia yang berstandar internasional.
Usaha para pendahulu menekuni profesionalitas seorang sineas, telah mendorong lahirnya sineas-sineas muda yang lebih kreatif dalam berkarya. Diakhir millenium kedua, ada banyak sutradara baru yang tertarik memulai debutnya dengan memproduksi film-film komersial. The Contact (1997) hasil karya Chang Yoon-hyun berhasil menembus box-office Korea. Disusul kemudian keberhasilan Kang Je-gyu dalam Shiri (1999) dan Park Chan-wook dalam Joint Security Area (2000). Salah seorang sutradara yang lebih kontroversial, Kim Ki-duk, berani melakukan membuat film dengan metode penggarapan baru, kasar tetapi secara visual menarik ditonton. Filmnya, The Isle (2000) mampu memenangkan penghargaan internasional meskipun kemudian menuai protes kritikus dalam negeri.
Berkat kontinuitas para kreator seni film serta dukungan pemerintah dan dunia ekonomi, sejak 1999 dunia perfilman Korea berhasil mengalahkan pangsa pasar film-film Hollywood yang mendominasi bioskop Korea. Geliat perfilman Korea yang telah mampu menundukkan pasar domestik juga telah melebarkan sayap ke wilayah regional dan juga internasional. Dengan menyublimasi kendala bahasa, bukan tidak mungkin jika perfilman Korea akan mampu bersaing dengan Hollywood dalam menginvasi bioskop-bioskop dunia. (*)


PERFILMAN INDONESIA ..
Dari Wikipedia bahasa Indonesia.
Perfilman Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan sempat menjadi raja di negara sendiri pada tahun 1980-an, ketika film Indonesia merajai bioskop-bioskop lokal. Film-film yang terkenal pada saat itu antara lain, Catatan si Boy, Blok M dan masih banyak film lain. Bintang-bintang muda yang terkenal pada saat itu antara lain Onky Alexander, Meriam Bellina, Nike Ardilla, Paramitha Rusady.
Pada tahun-tahun itu acara Festival Film Indonesia masih diadakan tiap tahun untuk memberikan penghargaan kepada insan film Indonesia pada saat itu. Tetapi karena satu dan lain hal perfilman Indonesia semakin jeblok pada tahun 90-an yang membuat hampir semua film Indonesia berkutat dalam tema-tema yang khusus orang dewasa. Pada saat itu film Indonesia sudah tidak menjadi tuan rumah lagi di negara sendiri. Film-film dari Hollywood dan Hong Kong telah merebut posisi tersebut.
Hal tersebut berlangsung sampai pada awal abad baru, muncul film Petualangan Sherina yang diperankan oleh Sherina Munaf, penyanyi cilik penuh bakat Indonesia. Film ini sebenarnya adalah film musikal yang diperuntukkan kepada anak-anak. Riri Riza dan Mira Lesmana yang berada di belakang layar berhasil membuat film ini menjadi tonggak kebangkitan kembali perfilman Indonesia. Antrian panjang di bioskop selama sebulan lebih menandakan kesuksesan film secara komersil.
Setelah itu muncul film film lain yang lain dengan segmen yang berbeda-beda yang juga sukses secara komersil, misalnya film Jelangkung yang merupakan tonggak tren film horor remaja yang juga bertengger di bioskop di Indonesia untuk waktu yang cukup lama. Selain itu masih ada film Ada Apa dengan Cinta? yang mengorbitkan sosok Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra ke kancah perfilman yang merupakan film romance remaja. Sejak saat itu berbagai film dengan tema serupa yang dengan film Sherina (film oleh Joshua, Tina Toon), yang mirip dengan Jelangkung (Di Sini Ada Setan, Tusuk Jelangkung), dan juga romance remaja seperti Biarkan Bintang Menari, Eiffel I'm in Love. Ada juga beberapa film dengan tema yang agak berbeda seperti Arisan! oleh Nia Dinata.
Selain film-film komersil itu juga ada banyak film film nonkomersil yang berhasil memenangkan penghargaan di mana-mana yang berjudul Pasir Berbisik yang menampilkan Dian Sastrowardoyo dengan Christine Hakim dan Didi Petet. Selain dari itu ada juga film yang dimainkan oleh Christine Hakim seperti Daun di Atas Bantal yang menceritakan tentang kehidupan anak jalanan. Tersebut juga film-film Garin Nugroho yang lainnya, seperti Aku Ingin Menciummu Sekali Saja, juga ada film Marsinah yang penuh kontroversi karena diangkat dari kisah nyata. Selain itu juga ada film film seperti Beth, Novel tanpa huruf R, Kwaliteit 2 yang turut serta meramaikan kembali kebangkitan film Indonesia. Festival Film Indonesia juga kembali diadakan pada tahun 2004 setelah vakum selama 12 tahun.
Saat ini dapat dikatakan dunia perfilman Indonesia tengah menggeliat bangun. Masyarakat Indonesia mulai mengganggap film Indonesia sebagai sebuah pilihan di samping film-film Hollywood. Walaupun variasi genre filmnya masih sangat terbatas, tetapi arah menuju ke sana telah terlihat.

Film pertama yang dibuat pertama kalinya di Indonesia adalah film bisu tahun 1926 yang berjudul Loetoeng Kasaroeng dan dibuat oleh sutradara Belanda G. Kruger dan L. Heuveldorp. Film ini dibuat dengan aktor lokal oleh Perusahaan Film Jawa NV di Bandung dan muncul pertama kalinya pada tanggal 31 Desember, 1926 di teater Elite and Majestic, Bandung.[1] Setelah itu, lebih dari 2.200 film diproduksi.
[sunting] Film Indonesia Terbaik

Sudah sejak lama ada beberapa pihak baik itu institusi, media ataupun perorangan yang berusaha menggolongkan film-film Indonesia sepanjang masa yang layak menjadi film yang terbaik berdasarkan kategori-kategori tertentu. Salah satunya adalah tabloid Bintang Indonesia yang pada akhir tahun 2007 berusaha memilah film-film apa saja yang dapat dikategorikan sebagai film Indonesia terbaik. Dari 160 film yang masuk dipilihlah 25 film yang dapat dikategorikan sebagai film-film Indonesia terbaik sepanjang masa. Film-film tersebut dipilih oleh 20 pengamat dan wartawan film yakni: Yan Widjaya (wartawan film senior), Ilham Bintang (wartawan film senior), Ipik Tanojo (Bali Post), Eric Sasono (pengamat film), Arya Gunawan (pengamat film), Noorca M. Massardi (wartawan film senior), Yudhistira Massardi (Gatra), Leila S. Chudori (Tempo), Frans Sartono (Kompas), Yusuf Assidiq (Republika), Aa Sudirman (Suara Pembaruan), Taufiqurrahman (The Jakarta Post), Eri Anugerah (Media Indonesia), Sandra Kartika (Wakil Pemimpin Redaksi Tabloid Teen), Telni Rusmitantri (Cek n Ricek), Ekky Imanjaya (situs Layarperak.com), Wenang Prakasa (Movie Monthly), Orlando Jafet (Cinemags), Poernomo Gontha Ridho (Koran Tempo), dan Ekal Prasetya (Seputar Indonesia)[2]. Ke-25 Film tersebut adalah:
1. Tjoet Nja’ Dhien (1986)
2. Naga Bonar (1986)
3. Ada Apa dengan Cinta? (2001)
4. Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985)
5. Badai Pasti Berlalu (1977)
6. Arisan! (2003)
7. November 1828 (1978)
8. Gie (2005)
9. Taksi (1990)
10. Ibunda (1986)
11. Tiga Dara (1956)
12. Si Doel Anak Betawi (1973)
13. (Cintaku di) Kampus Biru (1976)
14. Doea Tanda Mata (1984)
15. Si Doel Anak Modern (1976)
16. Petualangan Sherina (1999)
17. Daun di Atas Bantal (1997)
18. Pacar Ketinggalan Kereta (1988)
19. Cinta Pertama (1973)
20. Si Mamad (1973)
21. Pengantin Remaja (1971)
22. Cintaku di Rumah Susun (1987)
23. Gita Cinta dari SMA (1979)
24. Eliana, Eliana (2002)
25. Inem Pelayan Sexy (1977)
- Jurusan Filmatologi Program Studi Teori dan Estetika (S1-Terdaftar-1985)

Fakultas Film dan Televisi
- Jurusan Sinematografi: Program Studi Penyutradaraan (D3-Terdaftar-1985); Program Studi Editing (D3-Terdaftar-1985); Program Studi Tata Visual (D3-Terdaftar-1985); Program Studi Sinematografi (D3-Terdafatr-1985); Program Studi Suara (D3-Terdaftar-1985); Program Studi Animasi (D3-Terdaftar-1985); Program Studi Skenario (D3-Terdaftar-1985); Program Studi Manajemen Produksi (D3-Terdaftar-1985)

- Jurusan Filmatologi Program Studi Teori dan Estetika Film (S1-Terdaftar-1999); Program Studi Kritik dan Analisa Film (S1-Terdaftar-1999); Program Studi Semiologi (S1-Terdaftar-1999)

Harta Karun Soekarno

Bukan sekali dua kali banyak orang yang mengklaim dirinya punya akses untuk mencairkan harta peninggalan Bung Karno dan lain-lain. Katanya jumlahnya berlipat-lipat dari APBN Indonesia, bahkan katanya kalau dicairkan, hutang-hutang Indonesia yang baru akan lunas 10 turunan itu bakalan lunas nas naaas..
Saya tidak mengerti tentang kebenaran klaim-klaim tersebut. Tetapi menarik juga membaca berita hari ini di Pikiran Rakyat: Duki Temukan Emas Bergambar Bung Karno.

NURIYAN sudah melihat sendiri emas berukir foto dan nama Bung Karno yang ditemukan Duki saat meratakan lahan di Desa Kalihurip, Kec. Cikampek, Kab. Karawang, Jumat (1/8).* DEWIYATINI/"PR"
UKURANNYA memang tidak lebih dari ukuran bungkus rokok. Beratnya juga hanya sekitar 0,5 kilogram. Namun, penampilannya dan nilai yang terkandung dari benda ini, bisa membuat banyak orang tergiur untuk mendapatkannya.
Apalagi, nilai sejarahnya pun diduga akan ikut menaikkan harga benda tersebut. Di bagian penampangnya, terukir gambar lelaki dengan kopiah dan nama yang tertulis di bawahnya tidak asing lagi, “Ir. Soekarno”. Presiden RI pertama. Bahkan, di sisi kanan dan kirinya menempel tulisan “GOLD” dan “24 KARAT”.
Ya, itulah benda yang ditemukan Duki (40). Warga Desa Kalihurip Kec. Cikampek Kab. Karawang tersebut yang menemukan emas batangan itu. Tepatnya, Kamis (24/7) lalu, ia menemukannya ketika meratakan tanah yang letaknya bersebelahan dengan gerbang tol Kalihurip 2. Di lahan tersebut akan dibangun musala.
“Saya menemukannya waktu mencangkul. Dalam galiannya sekitar 75 sentimeter,” kata Duki yang ditemui di rumahnya, Jumat (1/8).
Ia meratakan lahan itu karena disuruh oleh Nuriyan, seorang pengurus pusaka dari Cirebon. Bersama Amil Kasim dan Salim, Duki menyelesaikan perataan lahan, yang semula kawasan itu disebut Sumur Dua karena ada dua sumur yang menjadi sumber mata air dan tidak terurus.
“Sebenarnya, saya tidak ingin menginformasikan penemuan ini. Saya khawatir, nantinya lahan yang semula akan dijadikan tempat ibadah, malah digali mencari emas,” ujar Nuriyan, yang mengaku belum memeriksa keaslian emas batangan tersebut.
Kades Kalihurip Eman Sulaeman membenarkan adanya penemuan itu. Akan tetapi, ia belum melihat langsung benda tersebut. Ia mengatakan bahwa lahan itu milik warganya dan telah dimintakan izin.
Lahan itu merupakan milik Budi yang luasnya 4 hektare. Saat Nuriyan meminta izin untuk membangun musala, Budi mengizinkannya. Menurut Nuriyan, penentuan lokasi pembangunan musala itu didapatkan dari petunjuk leluhurnya. Ia menyebut, tujuannya hanya untuk melestarikan peninggalan leluhur yang dinamai “Sumur Pusaka Cikahuripan”.
Kini, emas batangan itu berada di tangan Kasim. Ia tidak bermaksud untuk menjualnya atau menyerahkannya kepada pemerintah. Malahan, Nuriyan bermaksud menjaganya sebagai bagian dari pusaka peninggalan leluhur. Ia juga berharap lokasi itu tidak didatangi banyak orang untuk mencari emas-emas lainnya yang diduga peninggalan Bung Karno ketika singgah di Karawang.
Misteri Harta Karun Soekarno
HARTA karun peninggalan mantan presiden Soekarno selama ini masih misteri, bahkan tak sedikit yang meragukannya. Kasus kegagalan pencarian harta peniggalan Prabu Siliwangi di Istana Batutulis beberapa waktu lalu, sepertinya memupus harapan orang untuk memercayai hal-hal yang sulit dibuktikan kebenarannya.

Harta Karun Soekarno !
HARTA karun peninggalan mantan presiden Soekarno selama ini masih misteri, bahkan tak sedikit yang meragukannya. Kasus kegagalan pencarian harta peniggalan Prabu Siliwangi di Istana Batutulis beberapa waktu lalu, sepertinya memupus harapan orang untuk memercayai hal-hal yang sulit dibuktikan kebenarannya.



Namun lelaki yang menyebut diri satria piningit bernama Soenuso Goroyo Soekarno mengaku dapat mengangkat peninggalan Presiden Pertama RI itu. Bentuknya berupa ratusan keping emas lantakan, platinum, sertifikat deposito obligasi garansi, dan lain-lain. ”Ini baru sampel dan silakan mengecek kebenarannya. Jika bohong, saya siap digantung,” katanya, Jumat kemarin, kepada pers.

Mantan anggota TNI yang dahulu bernama Suwito itu sengaja mengundang wartawan di rumahnya, Perumahan Cileungsi Hijau, daerah perbatasan Bogor-Bekasi, untuk menyaksikan temuannya. Di rumahnya yang cukup megah disiapkan hidangan layaknya orang hajatan. Maklum, Goroyo, begitu dia biasa disapa, juga mengundang Pangdam Jaya, Kapolda, dan anggota Muspida. Tetapi dari mereka, tak ada pejabat datang.

Kepada tamunya, suami RA Lastika ini memperlihatkan peti besar berisi ratusan keping emas lantakan, masing-masing beratnya 8 ons bergambar Soekarno dan di baliknya ada gambar padi dan kapas. Pada satu sisinya ada tulisan 80 24K 9999. Sementara itu emas putih (platinum) juga berbentuk lantakan berlogo tapal kuda putih bertulisan JM Mathey London. Logam itu dibungkus emas dan bersertifikat emas pula.
Meskipun bersertifikat dan diyakini keasliannya, pada kesempatan itu tidak dihadirkan orang yang mengetahui emas atau pakar yang bisa memastikan asli atau tidak harta benda tersebut.

Memberi Kuasa
Peninggalan lain berupa sertifikat deposito bertanggal 16 Agustus 1945 yang dikeluarkan oleh BPUPKI yang menyebut sejumlah harta yang disimpan di suatu tempat. Ada pula sertifikat berbahasa Inggris yang juga disegel dan ditulis di atas lembar kuningan. Sertifikat itu ada yang bertuliskan ”Hibah Substitusi” yang dipercayakan kepada R Edi Tirwata Dinata (108).Yang terakhir ini, konon karena sudah tua, lantas memberikan kuasa kepada R Anton Hartono untuk mengurus harta benda yang disimpan di Swiss. Bentuknya mikrofilm, dua lembar dokumen, anak kunci boks deposit di JBS, Jenewa, dan dua buah koin.

Di dalam sertifikat itu disebutkan, ada dana berjumlah 126,2 miliar dolar AS dan 63,10 miliar dolar AS.”Insya Allah, jika saya diberi izin, semua harta peninggalan Bung Karno ini bisa membayar utang kita. Saya yakin bisa melaksanakannya,” ungkap Goroyo sembari membantah dirinya paranormal. Dia juga membantah berambisi menjadi presiden atau jabatan politis lain. ”Semua saya lakukan dan beberkan untuk membangun negara kita,” tegasnya.Saat mendekati rumahnya, di pintu gerbang perumahan dan di depan rumahnya terpampang spanduk putih bertulisan merah,

”Satrio Piningit Soenuso Goroyo Soekarno sang Juru Selamat Telah Hadir di Bumi Indonesia.”Namun wartawan yang datang sejak pukul 11.00, baru diterima seusai shalat jumat. Goroyo mengenakan stelan jas putih, sepatu putih, mirip yang dikenakan Presiden Soekarno.Di ruang tamunya juga dipajang foto dirinya bersama seorang jenderal. Ada pula yang memperlihatkan saat dirinya menjadi anggota Batalyon Arhanud SE 10/Kodam Jaya. Namun, dia enggan membeberkan latar belakang jati dirinya. ”Saya ini orang susah. Jadi tentara pangkatnya juga di sini (memegang lengannya). Jika saya pakai pakaian seperti ini, hanya model. Kebetulan saya suka,” tuturnya.

Proses Pencarian

Goroyo mengemukakan, dia hanya ingin ada saksi dari aparat soal harta temuannya itu. Selanjutnya akan diserahkan kepada Presiden Megawati dan diharapkan bisa melunasi utang luar negeri pemerintah. ”Saya tidak ingin imbalan apa pun termasuk jabatan. Saya hanya butuh pengakuan dan surat kuasa untuk meneruskan pencarian harta ini. Namun tampaknya Kapolda dan Kapolri berhalangan.”


Dia menceritakan proses pencarian harta tersebut. Diawali dari kebiasaannya bertirakat di berbagai tempat, lantas mendapatkan petunjuk. Petunjuk awal adalah sebuah tongkat wasiat yang diyakini tongkat komando milik Presiden Soekarno yang kemudian disimpannya hingga kini.Selanjutnya, dengan tirakat pula, secara gaib harta benda itu bisa diangkat dari beberapa daerah di Bali, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan. ”Meskipun benda ini kini nyata, tapi awalnya adalah harta gaib. Jadi, mengambilnya juga dengan cara gaib. Saya tidak boleh memilikinya. Saya diperintahkan menyerahkan kepada negara untuk menyelamatkan bangsa,” paparnya.Ketika disinggung, kenapa justru membeberkan kepada wartawan, bukan langsung menyerahkan kepada pemerintah, Goroyo menyatakan dirinya sudah capai berhubungan dengan pejabat. Awalnya dia melapor kepada Presiden Megawati, tapi tidak digubris. Kemudian kepada mantan atasannya, Kol Art Harus Putri Osa, Dan Men Arhanud I Kodam Jaya, ke Mabes TNI, bahkan juga dilaporkan kepada anggota DPR Permadi SH.

Namun semua seperti tidak menghiraukannya. ”Karena itu, saya mengundang rekan-rekan wartawan untuk menyaksikan langsung,” ujar Goroyo sembari menegaskan, sebagai satria piningit dirinya mengemban tugas menyelamatkan bangsa. Sebutan satria itu dia jelaskan, tidak ada kaitannya dengan ramalan yang pernah diucapkan Permadi bahwa negeri ini akan dipimpin satria piningit.
Katanya pada tahun sebelum 1945 tp dalam penjajahan jepang soekarno tuh naru duid di bawah tanah yang Jumlahnya treliunan.. Dan sekarang yang g tau anak pertama dari istri keduanya udah Nemui 1miliar dengan bantuan para normal(tentunya saja uang zaman dulu).. Nah lo tw gak sehh !! dulu soekarno naruh uangnya dengan 15 lebih truk di masukan ke dalam lobang tanah yang dalam bersama truk truk nya .. lalu soekarno meMbunuh semua orang yang Telah Ikut membantu memasukann truknya.. sampai ada 1 orang tentara yang lolos.. nah tentara itu berhasil menyelamatkan diri dan bertemu istri keduanya soekarno.. dan akhirnya pun anaknya tau dan sekarang masih mencari harta yang di tinggalkan soekarno..
N satu lagi,, waktu paranormalnya nyari uang yg di dalem tanah itu gk pake pengeboran ato alat pembantulainnya ,, itu pake jin dan jenglot.. Anak keduanya mencari uangnya dengan para normal karena sebelumnya ia sudah pernah mencari dengan mesin pembantu untuk menggali tanah . Lalu hasilna ENOL lalu ia mencoba untuk memakai paranormal dalam pencariannya,, kata si paraNormal harta itu di jaga jin peliharaannya soekarno ,, sampai sampai paranormalnya untuk mengambil hartanya pun tidak 1 orang ,, bahkan sampai 5 orang..

video TRIK JITU KESUKSESAN, DIJAMIN !



TANDA PENGORBANAN CINTA

Makna Sejati Berkurban..

Subhaanallah, Dialah Allah yang Maha Agung dan Maha Mulia tiada seorang hamba pun yang pasrah, patuh, mendekat, dan rindu kepada-Nya melainkan Dia akan memuliakan hamba-Nya itu dengan kemuliaan derajat dan berbagai karunia yang besar. Sungguh, segala puji bagi-Nya, Dialah Allah yang telah menunjukkan jalan-jalan kemuliaan kepada hamba-hamba-Nya; yakni dengan mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh para Rasul-Nya, para Nabi-Nya, dan para kekasih-Nya. Ucapan sanjungan shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad Ibn ‘Abdillah, serta kepada para Rasul para Nabi dan hamba-hamba Allah yang sholeh yang mengikuti petunjuk-Nya.
Saudaraku tercinta, tiada satu kisah pun yang Allah cantumkan di dalam Al-Qur’an melainkan di sana terkandung pelajaran yang amat berharga bagi setiap hamba-Nya yang mendambakan rahmat-Nya. Salah satunya ialah kisah tentang kepatuhan Nabi Ibrahim As. dalam melaksanakan perintah Allah agar Nabi-Nya itu mengkurbankan anaknya Nabi Ismail As., yang sebelumnya adegan berkurban itu telah didahului pula oleh kisah Habil dan Qabil yakni anak dari Nabi Adam As dengan istrinya Siti Hawa. Yakni Habil dan Qabil mempersembahkan hewan kurban mereka kepada Allah SWT, namun hanya persembahan kurban Habil yang diterima. Kisah ini selanjutnya disampaikan Allah SWT khusus kepada Muhammad Ibn Abdillah Sang Rasul pilihan-Nya SAW, yakni dengan tujuan agar Ummat Islam yang mengikuti beliau menjalankan pula perintah ibadah berkurban kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Hal itu pun dicontohkan sendiri oleh Rasulullah SAW dengan selalu menyembelih 2 ekor domba untuk hewan kurban setiap tahun. Sehingga pada setiap Hari Raya Idul Adha ummat Islam menyelenggarakan pemotongan hewan kurban dan pembagiannya kepada ummat terutama kaum dhuafa. Jika setiap tahun kita menyelenggarakan amaliah kurban tersebut, lalu apakah sebagai ummat kita sudah benar-benar memahami makna sejati daripada ibadah kurban tersebut ?. Ini penting agar rutinitas tahunan yang biasa kita lakukan tidak menjadi ritual kosong belaka.
Bagi seorang hamba yang sangat mendambakan rahmat Tuhannya, apapun cara dan langkahnya selayaknya akan ditempuhnya demi meraih apa yang didambakannya. Sesungguhnya untuk itulah Allah SWT menurunkan perintah berkurban, yakni untuk menguji hamba-hamba-Nya yang benar-benar mendambakan karunia rahmat-Nya. Adapun puncak daripada karunia rahmat Allah SWT ialah keridhoan-Nya dan kecintaan-Nya atas hamba-Nya. Jika seorang hamba menyatakan bahwa ia sangat ingin menjadi hamba Allah yang mendapatkan keridhoan dan kecintaan Allah SWT, maka sudah tentu ia harus membuktikan kerelaannya dan kepatuhannya untuk melaksanakan segala perintah Allah SWT.
Saudaraku tercinta, Ibadah kurban adalah salah satu ibadah yang memerlukan persembahan harta dan jiwa, sebagaimana ibadah Haji dan Jihad. Seorang muslim yang yang ingin berkurban, maka ia harus menginfakkan sebagian hartanya berupa hewan kurban untuk disembelih.
Ibadah kurban, sejatinya ialah bentuk “tanda pengorbanan Cinta” kita kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta. Dikatakan demikian, karena seorang hamba yang berkurban hakikatnya adalah sedang mengusahakan suatu perbuatan yang bisa mendekatkan dirinya pada Allah SWT, sebagaimana kata kurban itu sendiri secara bahasa berasal dari akar kata bahasa Arab yakni Qorroba-yuqorribu-qurbaanan yang berarti “mendekat” demi meraih kecintaan dan keridhoan Allah SWT. Coba kita perhatikan firman Allah SWT dalam Al- Qur’an, surat Ash-Shoffat ayat 101-105:
{Maka kami kabarkan berita gembira untuknya (Nabi Ibrahim As) tentang kelahiran seorang anak laki-laki yang penyabar}101. {Maka ketika Ia (Nabi Ismail As) telah mencapai usia anak-anak, ia (Nabi Ibrahim As) berkata “Wahai anakku, sebenarnya aku bermimpi menyembelihmu, lalu apakah pendapatmu ?, ia (Nabi Ismail As) menjawab “Wahai ayahku lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) padamu, insya Allah engkau akan mendapatiku seorang dari golongan yang sabar}102. {Maka ketika keduanya telah menyerahkan/memasrahkan dirinya (kepada Allah), dan ia (Nabi Ibrahim As) telah meletakkan pelipisnya (Nabi Ismail) }103. {Dan Kami berseru memanggilnya “wahai Ibrahim !}104. {Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu !, sesungguhnya begitulah Kami memberi ganjaran (pahala kebaikan/kemuliaan) kepada orang-orang yang baik. }105.
Informasi yang kita dapatkan dari ayat di atas adalah Allah SWT mengaruniai Nabi Ibrahim nikmat dan kabar gembira berupa kelahiran Nabi Ismail As setelah sebelumnya beliau berdoa kepada-Nya memohon keturunan yang sholeh. Adapun pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kisah diatas adalah setelah itu Allah SWT bermaksud menguji keimanan, keyakinan, keikhlasan, kesabaran, kepasrahan, ketulusan dan kepatuhan hamba-hamba-Nya, yakni Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As. Dan bukan main, Ujiannya ialah berupa perintah Allah SWT dalam bentuk mimpi yang dialami Nabi Ibrahim As. untuk mengurbankan anaknya. Padahal Nabi Ibrahim dan Istrinya sedang sangat berbahagia dengan kehadiran anak laki-laki mereka itu. Menghadapi ujian itu tentulah terjadi proses perang batin dalam diri Nabi Ibrahim As. Sebab sebagai manusia, ia perlu meyakinkan dirinya, menghilangkan segala keraguan, mengalahkan egonya, melawan gangguan bisikan syaithan, dan menyerahkan segala kepatuhannya kepada kehendak Tuhannya. Disinilah Nabi Ibrahim berjuang (berjihad) melawan kehendak ego dan hawa nafsunya dirinya sendiri untuk dapat rela mengorbankan kepentingan dirinya, kehendak jiwanya dan kecintaan pada harta/keluarganya, demi meraih cinta dan keridhoan Tuhannya. Nabi Ibrahim As pun berhasil menunjukkan kepada Allah yang Maha Agung bahwa ia hanyalah seorang hamba yang tidak dapat berbuat apa-apa jika Tuhannya sudah menetapkan suatu kehendak. Lebih dari itu ia telah menunjukkan bahwa lebih mementingkan dan mendambakan cinta Tuhannya daripada cintanya pada harta dan keluarganya. Walhasil, Nabi Ibrahim telah menunjukkan “tanda pengorbanan cintanya” kepada Allah SWT. sehingga Allah SWT pun mengangkat dan merestuinya menjadi sang Khaliilullah yakni kekasih terdekat Allah ‘Azza Wa Jalla. Serta merta Allah membanggakannya dalam firman-Nya: {“Sungguh inilah ujian yang amat nyata(beratnya) } 106. {Dan Kami tebus itu dengan sembelihan yang agung}107. {Dan Kami langgengkan (kisah) itu dikalangan orang-orang sesudahnya} 108. {Salam sejahtera atas Ibrahim}109. {Sungguh ia termasuk dari golongan hamba-hamba Kami yang beriman}.110. Dan atas pengorbanan agung itu, karunia Allah tidak berhenti sampai di situ, sebab Allah pun mengabarkan berita gembira tentang kelahiran Ishaq, seorang anak yang shalih yang akan menjadi Nabi, sebagaimana Ismail juga sebelumnya dijadikan seorang Nabi. Dari nabi Ismail inilah Nabi Ibrahim mendapat keturunan seorang Muhammad SAW sang Nabi sekaligus Rasulullah yang menjadi Habiibullah yakni kekasih tercinta pilihan Allah, yang pribadinya menjadi cerminan mahluk teragung di dunia dan akhirat. Subhaanallah !
Anaknya pun tak kalah hebatnya dengan ayahnya. Saat ayahnya bertanya kepadanya, ia dapat menjawab singkat dan jawabannya itu sangat mengagumkan bijaksana sekali penuh dengan ketenangan dan kesabaran. “Wahai ayahku, lakukanlah jika memang itu perintah !”. terlebih lagi saat ia telah dibaringkan untuk disembelih oleh ayahnya, sungguh Nabi Ismail As telah menunjukkan kepatuhan dan ketundukannya pada kemuliaan ayahnya sebagai seorang utusan Allah, juga kepada perintah Allah SWT. Walhasil ia pun telah berhasil menunjukkan “tanda pengorbanan cintanya” kepada Tuhannya. Sehingga pengorbanan keduanya diterima di sisi Allah SWT dan Nabi Ismail As pun mendapat gelar Dzabiihullah yakni sembelihan Allah SWT.
Nabi kita yang sangat masyhur pun yakni Nabi Muhammad SAW telah berhasil menunjukkan semua “tanda pengorbanan cintanya” kepada Allah SWT, dengan melalui segala rintangan dan hambatan, hinaan, pemboikotan, ancaman pembunuhan, berbagai peperangan, dalam menegakkan semua perintah Allah dan panji-panji Islam. Di samping beliau menampilkan sosok dirinya yang berkepribadian nan tinggi dan agung untuk menjadi contoh pelajaran bagi seluruh ummat manusia. Semua itu disimbolkan dengan cara beliau berkurban menyembelih hewan ternak setiap tahun. Sebagai ungkapan persembahan kepada Allah yang Maha Agung, menjalankan perintah-Nya, dan menyempurnakan ibadah Nabi-Nabi pendahulunya.
Lalu apa buktinya menyembelih hewan kurban itu merupakan bentuk persembahan “tanda pengorbanan cinta” kepada Allah SWT ?
Saudaraku tercinta, jika benar-benar ingin menjadi hamba Allah yang mendapat keridhoan dan kecintaan-Nya, maka hendaknya kita pun membuktikan keinginan itu dengan berusaha mengerahkan segala usaha yang bisa mendekatkan jiwa kita kepada Allah serta meraih ridho-Nya. Adapun perkara yang paling disukai Allah SWT ialah berkorban dengan harta dan jiwa di jalan Allah SWT. Maksudnya menjalankan segala ibadah yang diperintahkan-Nya dan disukai-Nya dengan segenap ketulusan hati yang disertai ketakwaan kepada-Nya. Berkurbanlah dengan harta kita (kecintaan kita kepada materi / mahluk), dan berkurbankanlah dengan jiwa kita (dengan menampilkan keshalehan akhlak kepribadian dan kebersihan hati yang penuh ketakwaan). Dalam hari raya Idul Adha, kedua hal tersebut bisa kita raih. Hewan kurban yang disembelih sebenarnya hanyalah simbol dari sesuatu yang bernyawa/hidup disembelih sehingga mati lalu diserahkan kepada yang memilikinya. Artinya hendaknya seorang muslim menyerahkan segala urusan hidup dan matinya kepada Allah SWT yang Maha Memiliki lagi Maha Menguasai kehidupan dan kematian. Disamping hewan kurban itu sendiri merupakan binatang ternak yakni harta manusia atau paling tidak dibutuhkan dana yang lumayan besar untuk membeli hewan kurban, itu artinya kita dianjurkan mengeluarkan sebagian harta yang kita sukai untuk diinfakkan di jalan Allah SWT. Bukankah Allah telah menegaskan dalam firman-Nya: {Kamu sekali-kali tidak akan pernah sampai pada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu dapat menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai, dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah SWT mengetahuinya}. {Qs.Al-Imran: 92}.
Adapun untuk menginfakkan sebagian harta yang kita cintai tidaklah mudah, dibutuhkan keimanan kepada Allah SWT, juga keikhlasan, keyakinan akan janji karunia pahala dan rahmat dari Allah, serta menundukkan ego pribadi, kepentingan pribadi, dan menyisihkan setiap bentuk kekotoran hati. Bukankah kita dianjurkan berpuasa sunnah sebelum hari raya Idul Adha ? Agar ketakwaan kita kembali terasa. Bukankah Allah menegaskan dalam Al-Qur’an, bahwa hewan kurban yang kita sembelih, dagingnya dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan kitalah yang akan sampai kepada Allah. Jadi ibadah kurban bukanlah ibadah mempersembahkan daging atau darah kepada Allah sebagaimana pernah dilakukan orang-orang jahiliah. Tapi ibadah kurban ialah ibadah mempersembahkan ketakwaan diri kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta. Untuk lebih meyakinkan, coba kita kembali cermati apa yang terjadi pada kisah kurban Nabi Ibrahim As atas anaknya Nabi Ismail As yang lalu. Dipenghujung kisah tersebut Allah SWT segera mengganti posisi Nabi Ismail yang telah dibaringkan siap untuk disembelih dengan seekor domba yang besar. Mengapa demikian ? jawabnya bisa jadi jika penyembelihan ayah dan anak itu terjadi, maka betapa tragisnya peristiwa itu tergambarkan. Manusia pun akan mengatakan itu adalah tragedi pembunuhan ayah atas anaknya. Atau mungkin sebagian orang akan mengatakan “masa Tuhan menyuruh seorang ayah membunuh anaknya ?!”, “kenabian macam apa yang wahyunya berupa pembunuhan anak, kejahatan kemanusiaan dalam keluarga, bagaimana bisa didakwahkan dimasyarakat ?!”. Maka Maha Benarlah Allah dengan segala firman-Nya. Tepat sekali keputusan Allah SWT mengganti sembelihan Nabi Ibrahim dengan seekor domba yang besar. Lalu apakah hanya berhenti sampai disitu ?, apakah perjuangan Nabi Ibrahim menaiki tangga-tangga keimanan dan ketaqwaan hanya diganti dengan seekor domba yang besar ?! Tentu saja Allah yang Maha Agung mengganjar seorang Nabi-Nya yang patuh itu dengan kemuliaan dan ketinggian derajat. Untuk itu Allah Swt. menegaskan dalam firman-Nya bahwa sembelihan itu diganti dengan “dzibhin ‘azhim” yakni berarti pengorbanan yang agung, (lihat Al-Qur’an surat Ash-Shofat ayat 107). Perhatikanlah kata “‘azhim” dalam ayat tersebut, yakni kata Bahasa Arab yang berarti “agung”, dan tidak mungkin Allah menyebut “kambing yang agung”, sebaliknya akan sangat pas jika dimaknai “pengorbanan yang agung”, maksudnya kepatuhan Nabi Ibrahim As. atas semua perintah Allah, itu diakui sebagai perjuangan beliau menuju ketaqwaan kepada Allah yang mengantarkannya sampai pada derajat kemuliaan yang agung “khalilullah” yakni kekasih Allah yang terdekat. Hal tersebut pun memang sesuatu yang sangat agung, bagaimana tidak ? Seorang hamba dituntut untuk dapat berkorban dengan segenap harta dan jiwanya agar dapat lebih dekat di sisi Tuhannya. Jadi, hewan kurban yang disembelih itu, hanyalah simbolisasi daripada pengorbanan seorang hamba atas hartanya sekaligus menunjukkan kecintaannya kepada sesama manusia dan Tuhannya. Sehingga dengan kata lain, jika di antara kita memiliki harta maka dermakanlah sebagiannya, jika memiliki ilmu maka amalkanlah, jika memiliki tenaga maka bantulah, jika memiliki waktu maka berpartisipasilah, jika memiliki umur maka manfaatkanlah. Adapun berkurban dengan jiwa adalah berkurban dengan keimanan, kebersihan hati, dan ketaqwaan.
Memperingati Idul Adha, maka ingatlah bahwa inilah saatnya kita menunjukkan “tanda pengorbanan cinta” kita kepada sesama manusia, terlebih kepada Sang Maha Pencipta.

RESENSI FILM

KETIKA CINTA BERTASBIH
film Indonesia pertama yang mengambil latar sepenuhnya di bumi Mesir

Jodoh itu ditangan Tuhan, namun manusia wajib berusaha dan berdoa. Itulah pesan yang ingin disampaikan Sutradara Chairul Umam. Dengan mengadaptasi sebuah novel best seller karya penulis besar Habiburrahman El Shirazy, ia berhasil menyuguhkan kepada penonton sebuah detail yang cukup mengagumkan dari pemandangan Mesir dengan Pyramid, Sphinx, Sungai Nil, Kota Alexandria, Banteng Qait Bait, dan juga indahnya laut Mediterania yang sungguh menakjubkan Semua itu ia rangkum dalam film drama religi terbarunya, KETIKA CINTA BERTASBIH. Dalam film ini, Chaerul seakan mengajak penonton menyelami dunia seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Mesir. Kebimbangan melanda diri Azzam, karena didalam ajaran Islam tidak mengenal istilah pacaran, yang ada hanyalah “ta’aruf”. Dan selama menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar Kairo, Azzam juga harus bekerja keras menghidupi ibu dan adik-adiknya di kampung. Berhasilkah Azzam menemukan jodoh lewat jalan yang ditetapkan ajaran agamanya tersebut?
Kejelian strategi rumah produksi Sinemart dengan memasang bintang-bintang baru memungkinkan karakter dalam film ini bisa secara bebas terbentuk. Ternyata tidak hanya para pendatang baru saja, dalam film ini juga bermain aktor dan aktris kawakan seperti Deddy Mizwar, Niniek L. Karim, El Manik, Slamet Raharjo, Aspar Paturusi dan juga Didi Petet. Uniknya lagi sang penulis Habiburrahman El Shirazy dan Tokoh Islam Prof.dr. Din Syamsudin seakan tidak mau ketinggalan untuk ikut ambil bagian meramaikan film ini.
Film yang paling ditunggu-tunggu tahun 2008 ini akhirnya dapat memunculkan wujudnya di pertengahan tahun 2009 ini. Setelah beberapa bulan dilewati dalam pengambilan gambar di bumi Mesir, seluruh kru dan para pemain dapat menghembuskan nafas lega ketika film ini rampung. Kabarnya, film ini merupakan gabungan dari dua novel KETIKA CINTA BERTASBIH karangan Habiburrahman El Shirazy yang belum cukup puas dengan mengadaptasi novel sebelumnya yang berjudul AYAT AYAT CINTA ke layar lebar arahan sutradara Hanung Bramantyo tahun 2008 lalu.
Film ini masih memakai strategi yang dimiliki AYAT AYAT CINTA sebelumnya, yaitu dengan merilis album soundtracknya terlebih dahulu sebelum filmnya beredar. Akan tetapi, kita telah dapat menyaksikan sebuah perjuangan cinta yang bertasbih di bioskop-bioskop tanah air mulai 11 Juni 2009 .

RESENSI FILM

RESENSI FILM PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN


Para Pemain : Revalina S. Temat, Joshua Pandelaki, Widyawati, Oka Antara, Reza Rahadian, Francine Roosenda
Sutradara : Hanung Bramantyo
Produser : Hanung Bramantyo
Penulis : Hanung Bramantyo, Ginatri S. Noor
Produksi : Starvision
Jenis Film : Drama
Film bertemakan Islam kini kembali di rilis oleh sang Sutradara handal Hanung Bramantyo yang baru-baru ini telah menghasilkan film Ayat-Ayat Cinta yang menjadi Box Office. Kali ini Hanung mengangkat tema tentang Hak Asasi Manusia dimana hak-hak kaum wanita merasa ditindas dalam ajaran agama Islam.
Film mengambil setting pondok pesantren Al Huda di Jawa Timur, di mana seorang perempuan bernama Anissa (Revalina S. Temat) putri dari kyai Salafiah pendiri pondok pesantren Al Huda merasa hak-haknya tidak di hargai di mata kaum lelaki. Dan dia ingin merubah semua anggapan itu dan bebas bagaikan burung yang terbang di langit.
Perempuan makhluk istimewa dengan segala keindahannya, makhluk yang sering dianggap lemah namun menyimpan kekuatan besar. Wanita juga boleh dibilang selalu menjadi ‘makhluk kelas dua’ jika dibandingkan dengan lawan jenisnya, laki-laki. Kebebasannya sering dianggap tabu, keputusannya dianggap berlawanan, padahal sejatinya perempuan dan laki-laki adalah pelengkap antara satu sama lain.
Bukan hal yang baru pula kalau laki-laki malah menjadi penindas bagi perempuan, perempuan menjadi warga negara kelas dua. Ditindas hak-haknya dan dilupakan suaranya. Di sisi lain emansipasi perempuan terus digaungkan. Sayangnya, kesetaraan hak itu bukanlah sesuatu yang bersifat evolusi namun paralel.
Di suatu waktu ada perempuan yang menjadi presiden tapi pada waktu yang sama ada perempuan yang di tekan, di paksa menghentikan pendidikannya, mengalami kekerasan dalam rumah tangga atau di jual oleh keluarganya sendiri. Berbicara mengenai kebebasan kaum perempuan, selalu tidak terlepas dari norma-norma adat, tradisi bahkan agama. Islam merupakan agama mayoritas Negara ini sering kali di kaitkan dengan topic kebebasan pihak perempuan, di anggap berat sebelah karena lebih memihak atas kepentingan kaum lelaki. Ayat-ayatnya menjadi alat untuk membungkam perempuan, sebuah fenomena pro dan kontra yang terus berlanjut hingga saat ini.
Membaca fenomena yang terjadi, starvision mencoba menghadirkan film terbarunya yang berjudul “PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN”, dengan arahan sutradara berbakat Hanung Bramantyo. Film yang di ambil dari karya novel Abidah El Khalieqy ini adalah film tentang salah satu dunia paralel perempuan. Berkisah tentang Anissa, seorang perempuan dari pesantren yang berjuang untuk mendapatkan haknya. Hak untuk memilih hidup tanpa ada tekanan, termasuk juga tekanan yang mengatasnamakan agama. Ini kisah tentang perempuan yang percaya kalau agamanya, islam, yang akan membawa kebebasannya sebagai manusia bukan malah mengurungnya.
Dalam press conference yang berlangsung di Planet Hollywood (12/1), Hanung mengatakan bahwa ia sadar hal ini adalah sesuatu hal yang sensitif sifatnya dan mengundang kontroversi. Namun ia mengajak para penonton untuk menelaah lebih dalam, jauh dari wacana islam serta pertentangannya. Ia juga mengatakan bahwa semua di sajikan berimbang, hingga tidak ada unsur menghakimi. Sementara dari sisi sang penulis, ketika di tanyakan seberapa besar penyajian film dengan isi novel yang ia tulis. Abidah mengatakan meski ada beberapa hal yang ingin di artikulasikan dalam film namun hal itu tidak terjadi. Ia menganggap pihak sutradara begitu apik mengemas film ini menjadi lebih ringan penyajiannya namun tidak melepas inti dari isi cerita.
Film “PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN” adalah kisah untuk anda yang percaya tentang pentingnya kebebasan seorang manusia.


Para Pemain : Revalina S.Temat, Joshua Pandelaki, wieke Widyawati, Oka Antara, Reza Rahadian, Francine Roosenda
Sutradara : Hanung Bramantyo
Produser : Hanung Bramantyo
Penulis : Hanung Bramantyo, Ginatri S. Noor
Produksi : Starvision
Jenis Film : Drama
Film bertemakan Islam kini kembali dirilis oleh sang Sutradara handal Hanung Bramantyo yang baru-baru ini telah menghasilkan film Ayat-Ayat Cinta yang menjadi Box Office. Kali ini Hanung mengangkat tema tentang Hak Asasi Manusia dimana hak-hak kaum wanita merasa ditindas dalam ajaran agama Islam.
Film mengambil setting Pondok Pesantren Al Huda di Jawa Timur, dimana seorang perempuan bernama Annisa (Revalina S. Temat) putri dari kyai Salafiah pendiri Pondok Pesantren Al Huda merasa hak-haknya tidak dihargai dimata kaum lelaki. Dia ingin merubah semua anggapan itu dan bebas bagaikan burung yang terbang di langit.
Dalam pondok pesantren tersebut, para santri diajarkan ilmu-ilmu tentang hidup berdasarkan agama Islam. Bagi Ayah Annisa, ilmu sejati dan benar hanyalah Qur’an, Hadits dan Sunnah. Buku modern dianggap menyimpang. Annisa merasa bosan dengan ajaran yang merasa menyudutkan kaum wanita.
Satu-satunya teman Annisa yang mengerti akan dirinya adalah Khudori (Oka Antara) yang tak lain adalah Pakleknya (Paman dari pihak Ibu) sendiri. Hari-hari Annisa begitu bahagia ketika bersama Khudori, Annisa merasa terhibur dan mendapat ilmu baru bersama Khudori. Diam-diam Annisa jatuh hati dengan Khudori. Khudori menyadari hal itu dan iapun merasa tidak pantas bersanding dengan keluarga Kyai Salafiah.
Sampai akhirnya Khudori memutuskan sekolah ke Kairo demi melupakan cintanya. Dari sinilah awal mula cinta Annisa terputus. Annisa diam-diam mendaftarkan diri kuliah ke Jogja dan di terima. Namun, ayah Annisa bersih keras tidak mengizinkan anak gadisnya untuk dilepas sendirian dengan alasan tidak ada muhrim dan takut menimbulkan fitnah.
Akhirnya Annisa dinikahkan dengan Samsudin (Reza Rahadian) putra dari Kyai pendiri pondok pesantren Salaf terbesar di Jawa Timur yang sering membantu pondok Ayah Annisa. Meski Annisa menolaknya, tapi pernikahan tetap harus dilangsungkan. Sebelum menikah. sifat dan watak Samsudin baik-baik saja. Namun setelah menikah maka terlihatlah watak asli dari suaminya tersebut. Akhlak baik yang selama ini ditunjukkan didepan keluarga Annisa ternyata hanya bohong belaka
Annisa dipertemukan lagi dengan Khudori dan keduanya sama-sama saling mencintai. Hati Annisa berontak ingin minta cerai tapi tidak terkabul. Lalu Annisa menemui Khudori di kandang kuda dan meminta Khudori untuk menodai dirinya dengan alasan bisa cerai dari suaminya yang biadab itu. Tapi Khudori menolaknya dia masih berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dan masih menghormati Perempuan.
Kejadian itu dipergoki oleh Samsudin sendiri, karena dia sudah menaruh curiga dari awal. Samsudin menyeret kedua Insan berlainan jenis itu di hadapan para Santri dan Kyai. Samsudin menuduh istrinya berselingkuh dengan Khudori dan Samsudin meminta keadilan menurut hukum Islam yaitu menghujam pasangan yang berselingkuh dengan batu. Seketika itu Ayah Annisa meninggal karena serangan Jantung.
Annisa melanjutkan hidupnya seorang diri ke Jogja meneruskan cita-citanya yang belum tercapai. Dia ingin merubah pondok pesantren menjadi pondok modern, yang santrinya tidak belajar Ilmu-ilmu Islam yang dirasa sangat menyudutkan kaum perempuan. Dia ingin santrinya menjadi modern dalam dunia pendidikan dan dalam mengarungi bahtera kehidupan.
Lagi-lagi Annisa dipertemukan dengan Khudori. Memang kalau jodoh itu tidak lari kemana-mana. Niat Annisa yang ingin hidup bebas dari kenangan masa lalu ternyata tidak bisa dipungkiri karena Khudori hadir dalam kehidupan Annisa lagi. Akhirnya Khudori melamar Annisa dan Annisapun menerima lamaran Khudori yang jelas-jelas Annisa mengharapkan Cinta Khudori dari dulu.
Akhirnya pasangan serasi itu dikaruniai seorang putra. Demi menjaga keselamatan bersama, mereka pulang kampung ke rumah orang tuanya yang ada di pondok pesantren. Belum tenang hati Annisa untuk bahagia hadirlah Samsudin mantan Suami Annisa yang sekarang menjadi rentenir (penagih hutang) di pondok yang sekarang diurus oleh kakaknya sejak Ayahnya meninggal. Karena untuk mencukupi biaya pondok tidak bisa mengharapkan dari ladang tebu yang dikelolanya, akhirnya kakaknya hutang ke Samsudin.
Annisapun meminta kepada Khudori untuk segera pulang ke Jogja karena dia tidak betah lagi berada disana. Bayang-bayang masa lalu selalu saja menghantuinya.
Takdir berkehendak lain. Di tengah perjalanan membeli tiket ke Jogja, Khudori mendapat kecelakaan dan akhirnya meninggal dunia. Bertambahlah kesedihan Annisa karena telah kehilangan orang yang dicintainya untuk kedua kalinya.

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Google Hot Trends